Gereja Toraja
Sejarah Gereja Toraja Pertama di Kota Makassar
Lokasinya Jl Gunung Bawakaraeng No 93, Kelurahan Pisang Utara, Kecamatan Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/05012023_Jemaat_Bawakaraeng.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKASSAR - Di Makassar, Gereja Toraja bisa dibilang telah menggurita. Jemaatnya telah tersebar di hampir semua sudut kota Makassar.
Tapi, tahukah Anda Gereja Toraja pertama di Makassar? Ini kisahnya.
Gereja Toraja pertama di Makassar adalah Jemaat Bawakaraeng. Lokasinya Jl Gunung Bawakaraeng No 93, Kelurahan Pisang Utara, Kecamatan Ujung Pandang, Sulawesi Selatan.
Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng sekarang memiliki gedung yang baru berlantai tiga. Lantai teratas sebagai ruang ibadah, lantai tengah sebagai ruang serba guna, dan lantai bawah sebagai tempat parkir dan kantor sekretariat.
Ini merupakan gedung Gereja Toraja pertama yang berlantai tiga di Makassar. Lokasinya sangat strategis, berada di jalan poros utama di Kota Makassar.
Pada gambar desain bangunan gedung gereja dibuat menyerupai Tongkonan yang bermakna suatu harapan. Desain Tongkonan ini juga memiliki makna sejarah dan merupakan lambang persekutuan orang Toraja.
Awal mula Jemaat Bawakaraeng
Gereja Toraja Jemaat Bawakaraeng yang sekarang dulunya dikenal dengan nama “Gereja Maros”, sebelumnya lagi dikenal dengan nama “Gereja Renggang”. Ini merupakan jemaat Gereja Toraja pertama di Kota Makassar,
Persekutuan umat Kristiani orang-orang Toraja ini bahkan sudah dimulai 20 tahun sebelum Gereja Toraja secara resmi berdiri pada tahun 1947 atau sekitar tahun 1927an.
Jemaat ini awalnya merupakan persekutuan ibadah umat Kristen orang Toraja dengan menggunakan rumah panggung sederhana.
Setelah lebih dari 90 tahun, kini tempat itu menjelma menjadi gedung Gereja Toraja yang megah dan menjadi salah satu ikon Toraja di Kota Daeng ini.
Tahun 1920-an, orang-orang Toraja yang sudah menempuh pendidikan yang layak (biasanya lulusan SMA) dan sebagian besar sudah memeluk agama Kristen (dari kepercayaan Aluk To Dolo) mulai hijrah ke Makassar.
Mereka menginap di sebuah rumah panggung di kampung Renggang (sekarang berlokasi di belakang Gedung Geraja yaitu di sekitar jalan Gunung Lompobattang, Sungai Kelara, Sungai Tallo, Sungai Cerekang, sampai jalan Gunung Bulusaraung).
Karena sebagian besar sudah beragama Kristen, mereka terpanggil untuk bersekutu dan beribadah pada setiap Hari Minggu.
Maka jadilah rumah panggung itu berfungsi ganda yakni sebagai tempat penginapan bagi mereka, yang baru datang dari kampung, dan juga sebagai tempat beribadah.