Kamis, 9 April 2026

Konflik Iran vs Israel

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Indonesia Kena Dampaknya

Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak mentah yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia. 

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Indonesia Kena Dampaknya
Grafis Tribunnews
SELAT HORMUZ - Grafis dampak yang ditimbulkan jika Iran menutup Selat Hormuz. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respon atas serangan Amerika Serikat pada 3 fasilitas nukril Iran ada 21-22 Juni 2025. 

TRIBUNTORAjA.COM - Serangan Amerika Serikat ke tiga fasilitas nuklir pada Sabtu dan Minggu (21-22/6/2025), membuat Iran berang.

Iran pun mengancam akan menutup Selat Hormuz.

Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran dan merupakan rute ekspor utama bagi produsen minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.

Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran pun bersiap untuk menutup Selat Homuz. Langkah ini merupakan tanggapan atas serangan udara Amerika Serikat terhadap tiga lokasi nuklir strategis Iran.

Meski belum diputuskan secara resmi, tapi wacana ini telah mendapatkan dukungan dari parlemen. 

Ancaman itu pun menggema hingga pasar global, memicu kekhawatiran akan krisis energi baru.

Lantas, apa dampak bagi Indonesia?

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan, situasi ini bisa berdampak langsung pada distribusi energi dan bahan baku global, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting migas dunia.

“Ini baru pertama kalinya AS serang Iran langsung, sehingga timbul kekhawatiran eskalasi konflik akan meluas di Timur Tengah. Situasinya akan menyebabkan terganggunya distribusi migas dan berbagai bahan baku melalui Selat Hormuz,” ujar Bhima, Senin (23/6/2025), dikutip dari Tribunnews.com

Ia menyebut, meski permintaan energi dunia saat ini sedang melandai, potensi konflik bersenjata bisa menjadi pemicu lonjakan harga minyak.

“Estimasi harga minyak mentah menyentuh 80-83 dolar AS per barel dalam waktu dekat, setidaknya awal Juli 2025. Meski permintaan energi saat ini sedang turun, tapi konflik bisa mendorong naiknya harga minyak signifikan,” kata Bhima.

Dampak ke Indonesia dinilainya tak bisa dianggap remeh. 

Bhima mengingatkan, lonjakan harga minyak akan memperburuk posisi neraca perdagangan dan menekan daya beli masyarakat.

“Yang harus diperhatikan pemerintah adalah lonjakan biaya impor BBM akan sebabkan inflasi harga yang diatur pemerintah melonjak, tapi di saat daya beli lesu. Ini bukan inflasi yang baik,” jelasnya.

Kenaikan harga BBM, lanjut Bhima, akan diteruskan ke pelaku usaha dan konsumen, sehingga konsumsi rumah tangga ikut melambat.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved