Kamis, 23 April 2026

Hari Ini dalam Sejarah

Hari Ini dalam Sejarah: Mengapa Sumpah Pemuda Diperingati Setiap 28 Oktober di Indonesia

Puncak kongres ini adalah perumusan Sumpah Pemuda, berisi tiga janji mengenai satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Hari Ini dalam Sejarah: Mengapa Sumpah Pemuda Diperingati Setiap 28 Oktober di Indonesia
KOMPAS/MAMAK SUTAMAT
Para tokoh Kongres Pemuda I dan II bertemu di Gedung Sumpah Pemuda (28/10/1978). 

TRIBUNTORAJA.COM – Setiap tahun pada tanggal 28 Oktober, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momen bersejarah yang mengukuhkan semangat persatuan bangsa.

Peringatan ini mengingatkan pada ikrar kebangsaan yang tercetus dalam Kongres Pemuda Kedua di Jakarta, yang berlangsung pada 27-28 Oktober 1928.

Kongres ini menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan Indonesia menuju kemerdekaan.

 

 

Apa alasan peringatan Sumpah Pemuda setiap tahun? 

Sumpah Pemuda merupakan momen yang lahir dari kesadaran kolektif pemuda-pemudi Indonesia mengenai pentingnya persatuan di tengah keberagaman bangsa. 

Ikrar kebangsaan ini dirumuskan dalam Kongres Pemuda Kedua yang diinisiasi oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) dengan tujuan menguatkan rasa persatuan yang mulai berkembang di kalangan pemuda Indonesia.

 

Baca juga: Sejarah Sritex: Produsen Seragam Militer NATO yang Kini Dinyatakan Pailit

 

Menjelang kongres, para pemuda sempat mengadakan dua kali pertemuan persiapan pada tanggal 3 Mei dan 12 Agustus 1928, guna membahas teknis kongres, termasuk panitia, susunan acara, waktu, tempat, dan sumber dana.

Kongres Pemuda Kedua ini sendiri dilaksanakan di tiga tempat berbeda di Jakarta: Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Oost Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw. Masing-masing sesi kongres membahas aspek yang saling berhubungan:

- Rapat Pertama (27 Oktober malam, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond): Sugondo Djojopuspito membuka kongres dan Mohammad Yamin memaparkan lima faktor persatuan: sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

- Rapat Kedua (28 Oktober pagi, Gedung Oost-Java Bioscoop): Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro menyoroti pentingnya pendidikan kebangsaan dan keseimbangan pendidikan di sekolah dan rumah, serta memperkenalkan konsep pendidikan demokratis.

- Rapat Ketiga (28 Oktober sore, Gedung Indonesische Clubgebouw): Diskusi nasionalisme dan demokrasi yang disampaikan Soenario, diikuti pemaparan tentang gerakan kepanduan oleh Ramelan, dan konsep kepanduan sejati oleh Theo Pengamanan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved