Sejarah Sritex: Produsen Seragam Militer NATO yang Kini Dinyatakan Pailit
PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) pertama kali berdiri sebagai usaha kecil di Pasar Klewer, Solo, pada tahun 1966 oleh H.M. Lukminto.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/solo/foto/bank/originals/Suasana-di-daerah-pabrik-PT-Sritex.jpg)
Berdasarkan informasi dari situs resmi perusahaan, PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) pertama kali berdiri sebagai usaha kecil di Pasar Klewer, Solo, pada tahun 1966 oleh H.M. Lukminto.
Awalnya, Sritex hanya bergerak dalam perdagangan kain, namun dengan cepat memperluas bisnisnya.
Pada tahun 1968, Sritex mendirikan pabrik cetak pertamanya dan mulai memproduksi kain berwarna serta kain putih.
Baca juga: Sejarah Sambal, Makanan Pelengkap Legendaris yang Terekam dalam Manuskrip Kuno Jawa
Perusahaan terus berkembang hingga pada tahun 1978, Sritex resmi terdaftar sebagai perseroan terbatas di Kementerian Perdagangan.
Kemajuan signifikan terjadi pada tahun 1982, saat Sritex membangun pabrik tenun pertamanya, yang menjadi fondasi bagi pertumbuhan pesat di tahun-tahun berikutnya.
Pada 1992, Sritex berhasil mengintegrasikan empat lini produksinya—pemintalan, penenunan, finishing, dan produksi garmen—ke dalam satu fasilitas terpadu, menjadikannya salah satu pelaku utama di industri tekstil Indonesia.
Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Film G30S PKI, Tayangan Wajib di Akhir September pada Era Orde Baru
Tahun 1994 menjadi titik balik penting, di mana Sritex dipercaya menjadi pemasok seragam militer untuk NATO dan Tentara Jerman, memperkuat reputasinya di pasar global.
Ketika krisis moneter melanda Asia pada 1998, Sritex mampu bertahan dan bahkan menunjukkan pertumbuhan signifikan, memperbesar skala produksinya hingga delapan kali lipat dari kapasitas awal pada tahun 1992.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, Sritex terus menunjukkan keberhasilannya.
Baca juga: Besok Hari Pramuka ke-63, Berikut Sejarah dan Tema Hari Pramuka 2024
| Sudah Jalani Sidang Adat Toraja, Komika Pandji Kini Diperiksa Bareskrim Polri |
|
|---|
| Harga Tedong Turun Rp10 Juta per Ekor, Saleko Masih Tembus Rp1 Miliar |
|
|---|
| Rambu Solo Nek' Geby di Sanggalangi Toraja Utara Digelar Januari 2026, Sajikan Sejumlah Ritual Adat |
|
|---|
| Bumbu Rendang Kerbau di Tana Toraja Tembus Rp1,5 Juta, Dipesan untuk Acara Rambu Solo |
|
|---|
| Mau Liburan ke Toraja Desember Ini? Banyak Acara Rambu Solo yang Bikin Liburanmu Makin Seru |
|
|---|