Selasa, 21 April 2026

CEO Telegram, Pavel Durov, Ditangkap di Perancis. Benarkah Ada Aktivitas Kriminal?

Pavel Durov ditangkap saat sedang bepergian dengan jet pribadinya di bandara Bourget yang berada di luar Paris, Prancis, Sabtu (24/8/2024) malam.

Tayang:
Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto CEO Telegram, Pavel Durov, Ditangkap di Perancis. Benarkah Ada Aktivitas Kriminal?
Telegram/Pavel Durov
Pendiri dan CEO Telegram, aplikasi pengiriman pesan, Pavel Durov 

Kedutaan Besar Rusia di Prancis mengatakan kepada kantor berita negara Rusia, TASS, bahwa mereka tidak dihubungi oleh tim Durov setelah laporan penangkapan tersebut, tetapi mereka mengambil langkah "segera" untuk mengklarifikasi situasi.

Perwakilan Rusia untuk organisasi internasional di Wina, Mikhail Ulyanov, dan beberapa politisi Rusia lainnya dengan cepat menuduh Prancis bertindak sebagai kediktatoran.

"Beberapa orang yang naif masih belum mengerti bahwa jika mereka memainkan peran yang lebih atau kurang terlihat dalam ruang informasi internasional, tidak aman bagi mereka untuk mengunjungi negara-negara yang bergerak menuju masyarakat yang jauh lebih totaliter," tulis Ulyanov di X.

Beberapa blogger Rusia menyerukan protes di kedutaan besar Prancis di seluruh dunia pada siang hari Minggu.

Klarifikasi Telegram

Telegram angkat bicara terkait penangkapan Pavel Durov.

Aplikasi pengiriman pesan ini mengklaim, penangkapan tersebut tidak masuk akal, apalagi meminta sang bos untuk bertanggung jawab atas penyalahgunaan dalam platform tersebut.

"Telegram mematuhi undang-undang Uni Eropa, termasuk Undang-Undang Layanan Digital-moderasinya sesuai dengan standar industri dan terus ditingkatkan," kata Telegram dalam sebuah pernyataan yang dikutip Reuters, Minggu (25/8/2024).

Pernyataan tersebut dirilis setelah kepolisian Prancis menangkap Durov di Bandara Bourget yang berada di luar Paris pada Sabtu (24/8/2024) malam.

"CEO Telegram Pavel Durov tidak menyembunyikan apa pun dan sering bepergian ke Eropa," kata Telegram dalam pernyataannya.

"Tidak masuk akal untuk mengklaim bahwa suatu platform atau pemiliknya bertanggung jawab atas penyalahgunaan platform tersebut," lanjut Telegram.

"Kami sedang menunggu penyelesaian segera dari situasi ini. Telegram bersama Anda semua," tegas Telegram.


(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved