Pejuang Toraja
Untendanni Salu Sadan, Sandi Perjuangan Pong Massangka Melawan Belanda di Toraja
Pimpinan Belanda sudah terjebak. Tapi Pong Massangka urung melakukannnya karena waktu itu, si pimpinan Belanda bersama istrinya yang sedang hamil
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Daniel-Pongmasangka.jpg)
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Perjuangan Pong Massangka di Toraja tak kalah seru dengan Pong Tiku.
Pong Massangka dan Pong Tiku dua sahabat yang sama-sama menentang kesombongan penjajah Belanda di Bumi Lakipadada.
Kisah perjuangan Pong Massangka dituturkan cucu tertuanya, Daniel Pongmasangka, didampingi anaknya Nico Linggi Pongmasangka di samping peti jenazah Ne’ Linggi’ Yuli Maria Tangkeallo, putri Pong Masangka, di Sesean, Toraja Utara, Minggu (14/4/2024) petang.
Menurut Daniel Pongmasangka, Pong Massangka adalah pejuang paling muda di antara para pejuang di Toraja waktu itu, 1917-an. Dia lebih muda dari Pong Tiku.
Karena itu, Pong Massangka lebih banyak bergerak bergerilya hingga di luar Toraja untuk menghimpun kekuatan.
“Semaca berdiplomasi, mengajak tokoh lain berjuang bersama,” kata Daniel Pong Massangka.
Pong Massangka beberapa kali sudah berhasil menjebak pimpinan Belanda di Toraja dan sudah punya kesempatan membunuh.
Tapi pembunuhan urung dilakukan karena rasa kasihan.
“Ada suatu kesempatan. Pimpinan Belanda sudah ada di depan mata dan tinggal melemparkan tombak dan pasti kena. Tapi Pong Massangka urung melakukannnya karena waktu itu, si pimpinan Belanda berjalan dengan istrinya yang sedang hamil,” jelas Daniel Pongmasangka.
Menurut Daniel Pongmasangka, pantang bagi orang Toraja melukai ibu hamil apalagi sambil membuat ia terpercik darah.
Di kesempatan lain, Pong Massangka dan pasukannya sudah berhasil mengepung pimpinan Belanda dan sudah bisa dipastikan akan mati jika ditobak atau diparangi.
Tapi Pong Massangka urung melakukannnya karena tiba-tiba anak pimpinan Belanda itu jatuh dan menangis.
Sejak kedatangan Belanda di Toraja, Pong Massangka tidak pernah menunjukkan sikap tunduk kepada Belanda apa lagi menyerahkan senjatanya.
Pong Massangka lalu terpanggil mengkonkretkan semangat perjuangan bawah tanah para pejuang dalam suatu wadah dengan nama sandi " Untendanni Salu Sadan “, yang berarti “Jembatan Arus Sungai Saddang”.
Untuk memudahkan operasionalnya maka mulailah diintensifkan komunikasi rahasia para pejuang lewat Poros Perlawanan Balusu-Pangli/Bori'-Pangala' di Utara terus ke Pantilang di Timur, Sangalla' dan Mengkendek di Selatan serta Rembon dan Buakayu di Barat.
Sesuai kesepakan para pejuang ditetapkanlah target utama waktu itu yakni membunuh Controleur sebagai penguasa tertinggi pemerintah kolonial Belanda di Toraja.
pejuang Toraja
Pong Massangka
Daniel Pongmasangka
Nico Linggi Pongmasangka
Yuli Maria Tangkeallo
Pong Tiku
Untendanni Salu Sadan
| Sepatu dan Baju Saya dari Keringat Buruh |
|
|---|
| Efisiensi Anggaran, Dishub Tana Toraja Kurangi Pergerakan |
|
|---|
| Lewat Stakeholder’s Day 2026, KPPN Makale Dorong Transaksi Non-Tunai |
|
|---|
| Permudah Akses Penyandang Disabilitas, Disnaker Tana Toraja Pindah Kantor |
|
|---|
| Sempat Retak, Area Parkir Kantor Bupati Toraja Utara Diperbaiki |
|
|---|