Kamis, 21 Mei 2026

Pejuang Toraja

Untendanni Salu Sadan, Sandi Perjuangan Pong Massangka Melawan Belanda di Toraja

Pimpinan Belanda sudah terjebak. Tapi Pong Massangka urung melakukannnya karena waktu itu, si pimpinan Belanda bersama istrinya yang sedang hamil

Tayang:
Editor: AS Kambie
zoom-inlihat foto Untendanni Salu Sadan, Sandi Perjuangan Pong Massangka Melawan Belanda di Toraja
dok. TribunToraja.com
Tim TribunToraja.com wawancara dengan cucu Pong Massangka, Daniel Pongmasangka (kanan), di samping peti jenazah putri Pong Massangka, Yuli Maria Tangkeallo Ne' Linggi' di Tongkonan, Sesean, Toraja Utara, Minggu (14/4/2024) petang. Daniel Pongmasangka adalah pensiunan Kementerian Keuangan RI. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Perjuangan Pong Massangka di Toraja tak kalah seru dengan Pong Tiku.

Pong Massangka dan Pong Tiku dua sahabat yang sama-sama menentang kesombongan penjajah Belanda di Bumi Lakipadada.

Kisah perjuangan Pong Massangka dituturkan cucu tertuanya, Daniel Pongmasangka, didampingi anaknya Nico Linggi Pongmasangka di samping peti jenazah Ne’ Linggi’ Yuli Maria Tangkeallo, putri Pong Masangka, di Sesean, Toraja Utara, Minggu (14/4/2024) petang.

Menurut Daniel Pongmasangka, Pong Massangka adalah pejuang paling muda di antara para pejuang di Toraja waktu itu, 1917-an. Dia lebih muda dari Pong Tiku.

Karena itu, Pong Massangka lebih banyak bergerak bergerilya hingga di luar Toraja untuk menghimpun kekuatan.

“Semaca berdiplomasi, mengajak tokoh lain berjuang bersama,” kata Daniel Pong Massangka.

KELUARGA PONGMASANGKA - Yuli Maria Tangkeallo Ne' Linggi' (kiri) bersama sang suami, Ne' Kassa (berdiri kanan), Pong Massangka (duduk), dan Daniel Pongmasangka (dipangku oleh Pong Massangka).
KELUARGA PONGMASANGKA - Yuli Maria Tangkeallo Ne' Linggi' (kiri) bersama sang suami, Ne' Kassa (berdiri kanan), Pong Massangka (duduk), dan Daniel Pongmasangka (dipangku oleh Pong Massangka). (Courtesy: Nico Linggi Pongmasangka/cicit Pong Massangka)

Pong Massangka beberapa kali sudah berhasil menjebak pimpinan Belanda di Toraja dan sudah punya kesempatan membunuh.

Tapi pembunuhan urung dilakukan karena rasa kasihan.

“Ada suatu kesempatan. Pimpinan Belanda sudah ada di depan mata dan tinggal melemparkan tombak dan pasti kena. Tapi Pong Massangka urung melakukannnya karena waktu itu, si pimpinan Belanda berjalan dengan istrinya yang sedang hamil,” jelas Daniel Pongmasangka.

Menurut Daniel Pongmasangka, pantang bagi orang Toraja melukai ibu hamil apalagi sambil membuat ia terpercik darah.

Di kesempatan lain, Pong Massangka dan pasukannya sudah berhasil mengepung pimpinan Belanda dan sudah bisa dipastikan akan mati jika ditobak atau diparangi.
Tapi Pong Massangka urung melakukannnya karena tiba-tiba anak pimpinan Belanda itu jatuh dan menangis.

Sejak kedatangan Belanda di Toraja, Pong Massangka tidak pernah menunjukkan sikap tunduk kepada Belanda apa lagi menyerahkan senjatanya.

Pong Massangka lalu terpanggil mengkonkretkan semangat perjuangan bawah tanah para pejuang dalam suatu wadah dengan nama sandi " Untendanni Salu Sadan “, yang berarti “Jembatan Arus Sungai Saddang”.

Untuk memudahkan operasionalnya maka mulailah diintensifkan komunikasi rahasia para pejuang lewat Poros Perlawanan Balusu-Pangli/Bori'-Pangala' di Utara terus ke Pantilang di Timur, Sangalla' dan Mengkendek di Selatan serta Rembon dan Buakayu di Barat.

Sesuai kesepakan para pejuang ditetapkanlah target utama waktu itu yakni membunuh Controleur sebagai penguasa tertinggi pemerintah kolonial Belanda di Toraja.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved