Senin, 4 Mei 2026

Ramadan 1445 Hijriyah

Jejak Sejarah Dakwah Muhammadiyah di Tana Toraja

Saat itu, masyarakat Tana Toraja sudah menganut agama Kristen, selain kepercayaan Aluk Todolo.

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Jejak Sejarah Dakwah Muhammadiyah di Tana Toraja
net
Logo Muhammadiyah 

TRIBUNTORAJA.COM - Muhammadiyah masuk ke Kabupaten Tana Toraja (Tator) sekitar tahun 1935.

Dibawa oleh pedagang asal Kota Palopo yang juga anggota Muhammadiyah Palopo, S Machmud dan Abdul Gani (Wa’na atau Wa’Ganing).

Melansir umsrappang.ac.id, kedua tokoh Muhammadiyah itu, memang datang ke Tana Toraja untuk mengembangkan Persyarikatan di daerah pegunungan berbatasan dengan Tana Toraja ini.

Kisah ini tertuang dalam buku “Menapak Jejak Menata Langkah Sejarah dan Biografi Ketua-Ketua Muhammadiyah Sulawesi Selatan (2015)” karya Mustari Bosra dkk.

Saat itu, masyarakat Tana Toraja sudah menganut agama Kristen, selain kepercayaan Aluk Todolo.

Muhammadiyah kala itu kesulitan berdakwah di Makale, ibukota Tana Toraja.

Meski dinding tinggi menghadang, Muhammadiyah Makale tetap dapat mengembangkan gerakan.

Pada 1936, Madrasah Muhammadiyah di Rantepao yang kini menjadi ibukota Kabupaten Toraja Utara setelah dimekarkan dari Tana Toraja, dapat berdiri.

Namun, pada 1937 dipindahkan ke Makale.

Prinsip Dakwah Muhammadiyah Toraja

Gerak dakwah itu juga masih terlihat hingga kini. Meski harus diakui, tidak semudah daerah lain.

Hal ini terungkap saat Tim Khittah bertandang ke Makale, Selasa, 10 Januari 2023.

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tana Toraja menyambut kami dengan hangat. Mereka adalah ketua Zainal Muttaqin, sekretaris Rhony, dan wakil ketua Muhammad Sabir.

Saat ditanyai perihal tantangan dakwahnya, Kiai Zaenal, begitu sapaan Ketua PDM Tana Toraja, mengungkapkan pendekatan yang dilakukan Muhammadiyah di daerah minoritas itu.

“Muhammadiyah itu organisasi dakwah, gerakan Islam yang bersumber pada Quran dan sunnah. Semua gerakannya itu diarahkan untuk mengamalkan Islam dan mengembangkan Islam. Tapi, tetap mengontekstualisasikan atau membumikan Islam,” ungkap dia.

Karena itu, sebagai gerakan amar ma’ruf nahi munkar, Muhammadiyah Toraja tidak hanya berdakwah lisan.

Mereka mengaku tidak hanya menyampaikan, apalagi sekadar melarang-larang.

“Tapi, kami harus bil khair, karena kita berada di daerah minoritas. Kita harus menampilkan Islam itu dengan menarik, bukan menakut-nakuti. Saya sepakat dengan Pak Haedar Nashir, ber-Islam itu harus istikamah, tapi lapang, mengedepankan kasih sayang, persaudaraan, kebersamaan,” kata dia.

Karena itulah, pihaknya mengedepankan prinsip tadayyun. Ia menjelaskan, tadayyun adalah kesadaran atas perbedaan yang ada.

“Dakwah di Tana Toraja, banyak orang yang mengatakan, besar tantangannya, tapi sesungguhnya, orang Toraja itu welcome saja dengan kita,” kata Zainal.

Ia mengungkapkan, orang Toraja sesungguhnya bersikap terbuka atas paham apa pun yang datang.

“Hanya saja, mereka tentu kuat dengan keyakinan mereka. Meskipun banyak juga orang Toraja yang tertarik untuk masuk Islam,” kata dia.

Ia menambahkan, masyarakat Toraja mengenal konsep Tongkonan. Kiai Zainal menjelaskan, Tongkonan merupakan lembaga adat Toraja yang melekatkan tradisi-tradisi masyarakat.

Tongkonan juga dijadikan sebagai wadah mediasi jika terjadi benturan-benturan di tengah masyarakat Toraja.

“Tongkonan ini sudah ada sebelum agama ada, diwariskan hingga kini. Dalam tongkonan itu, orang Toraja menyilakan beragama apa pun, tapi, dalam keluarga, semua harus tetap menyatu,” kata Zainal.

Bahkan, ia mengaku, dirinya biasa berceramah dalam Tongkonan, karena di dalam keluarga tersebut ada beragama Islam.

Ia mengaku seringkali berceramah takziah dan diikuti oleh mayoritas non-Islam.

“Mereka diam menyimak, mendengarkan. Tapi, apakah mereka tertarik masuk Islam? Setidaknya mereka jadi tahu bagaimana sebenarnya itu Islam. Ini strategi dakwah juga,” ujar Kiai Zainal.

Meski demikian umat Islam di Toraja tetap tidak mencampur-adukkan agama (tasabuh).

“Ketika mereka Natalan, orang Islam juga diundang, hadir juga, tapi kalau ibadah, tidak ikut. Bahkan, ketika kita bangun masjid, ada panitianya yang Kristen. Mereka bantu pasir, semen,” ungkap Zainal.

Strategi Dakwah
Ketua PDM menyebut ke-Islaman orang Toraja diwarnai oleh Muhammadiyah. Ini terbukti, masjid raya Toraja adalah masjid Muhammadiyah. Zainal juga didapuk sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Terkait eksistensi di tengah masyarakat, Muhammadiyah Tator juga tergolong aktif turun tangan dengan Lazismu-nya. Masyarakat Toraja sudah tidak asing dengan aksi sosial Muhammadiyah, melalui Lazismu.

Demikian pula MDMC. Saat bencana melanda Mamuju dan Masamba, Pusat Dakwah Muhammadiyah (PUSDAM) Tator menjadi tempat transit dan penampungan relawan juga logistik.

“Alhamdulillah. Dalam aksi kemanusiaan, Muhammadiyah di Tana Toraja selalu terdepan. Silakan tanya. Jadi, kami mendakwahkan Muhammadiyah bukan untuk sekadar supaya mereka masuk Islam,” kata dia.

Pimpinan Muhammadiyah Tana Toraja menyadari betul bahwa pihaknya seharusnya tidak hanya berdakwah, tapi juga mencari peluang dakwah. “Kami sadar betul, Muhammadiyah itu gerakan tajdid, yang kami lakukan di sini itu,” tegas dia.

Hal yang tidak kalah penting, kata Kiai Zainal adalah menyinergikan dakwah dengan kearifan lokal. Demikian pula dengan melihat potensi untuk berdakwah efektif.(selengkapnya baca di https://umsrappang.ac.id/bagaimana-dakwah-muhammadiyah-di-tana-toraja)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved