Google Rayakan Hari Kabisat Lewat Doodle, Ini Sejarahnya
Tahun kabisat terjadi setiap empat tahun sekali, kecuali jika jatuh pada tahun abad yang bukan tahun kabisat.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/google-doodle-tahun-kabisat-2024-2922024.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Saat membuka halaman Google hari ini, Kamis (29/2/2024), tampilannya akan sedikit berbeda dari biasanya.
Ternyata, Google turut merayakan Hari Kabisat 2024 melalui Doodle-nya.
Google menampilkan gambar seekor katak yang sedang melompat dengan angka 29.
Hal ini karena hari ini, tepat tanggal 29 Februari, hanya terjadi setiap 4 tahun sekali.
Lalu, apa itu tahun kabisat?
Mengutip CBSNews, Tahun kabisat ada karena kalender yang digunakan oleh dunia adalah Kalender Gregorian yang terdiri dari 365 hari.
Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Memahami Hari Pendidikan Lingkungan Hidup Internasional 26 Januari
Namun, Bumi memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk mengorbit Matahari.
Secara spesifik, Bumi memerlukan waktu 365 hari, 5 jam, 48 menit, dan 46 detik untuk satu kali orbit mengelilingi Matahari, menurut NASA.
Meskipun angka tersebut dibulatkan menjadi 365 hari dalam tahun yang kita kenal sebagai tahun biasa, hampir enam jam lebih tersebut tidak sepenuhnya terakomodasi.
Baca juga: Aktivis Mahasiswa Bedah Buku Hitam Prabowo: Sejarah Kelam Reformasi 1998
Untuk mengakomodasi perbedaan tersebut, ditambahkanlah tahun kabisat.
Tanpa Hari Kabisat, dalam 100 tahun, kalender akan kehilangan 24 hari.
Mengapa Hari Kabisat jatuh pada bulan Februari?
Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Hari Layang-layang Internasional 14 Januari
Dalam sejarah Romawi Kuno, Hari Kabisat jatuh pada bulan Februari.
“Banyak orang Romawi tidak terlalu menyukai bulan Februari,” kata Ben Gold, seorang profesor astronomi dan fisika di Universitas Hamline di Saint Paul, kepada CBS Minnesota, Amerika Serikat.
Pada masa itu, sebelum tahun 8 SM, kalender hanya terdiri dari 10 bulan, dan orang-orang Romawi menganggap musim dingin sebagai satu periode yang tidak terbagi menjadi beberapa bulan.
Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Hari Tritura 10 Januari
Akhirnya, Romawi menetapkan bulan Januari dan Februari.
Februari menjadi bulan terakhir dan memiliki jumlah hari paling sedikit.
Kemudian, pada zaman kekuasaan Julius Caesar, kalender disesuaikan dengan siklus Matahari dan Hari Kabisat ditambahkan melalui dekrit.
Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Mengenang Tragedi Tsunami Aceh 26 Desember 2004
Pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII mengadopsi Kalender Gregorian yang kita gunakan sekarang, dan menetapkan bahwa setiap tahun yang dapat dibagi habis oleh 4 adalah tahun kabisat, kecuali tahun yang habis dibagi 400, yang tetap dianggap tahun kabisat.
Jadi, meskipun tahun 2000 adalah tahun kabisat, tahun 2100 dan 2200 tidak akan menjadi tahun kabisat.
Pada abad ke-18, Inggris juga menetapkan 29 Februari sebagai Hari Kabisat.
Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
Tahun kabisat terjadi setiap empat tahun sekali, kecuali jika jatuh pada tahun abad yang bukan tahun kabisat.
Tahun kabisat selanjutnya akan terjadi pada tahun 2028.
Hari Kabisat pada tahun tersebut akan dirayakan pada hari Selasa, 29 Februari.
Setelah itu, tahun kabisat berikutnya adalah tahun 2032, di mana Hari Kabisat jatuh pada hari Minggu, 29 Februari.
(*)
| Jejak Sejarah Pemimpin Tana Toraja, Dari Lakitta hingga Zadrak Tombeg |
|
|---|
| Aston Villa Raih 10 Kemenangan Beruntun usai Tekuk Manchester United 2-1, Ini Rahasia Unai Emery |
|
|---|
| Sejarah dan Profil Toraja Utara, Kabupaten Termuda di Sulawesi Selatan |
|
|---|
| Manchester United Tahan Imbang West Ham 1-1 di Old Trafford, Amorim Frustrasi |
|
|---|
| Akhirnya Menang, Liverpool Tekuk West Ham United 2-0 di London Stadium |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.