Opini
Generasi Alfa vs Artificial Intellegence
Jika digunakan dengan bijak, maka akan membawa keuntungan, sementara jika disalahgunakan bisa merugikan manusia.
Tantangan pertama dari AI adalah meningkatnya pengangguran.
Hasil penelitian dari Mckinsey Globalisasi Institute (MGI) pada 2017 bahwa sekitar 275 juta pekerjaan di seluruh dunia akan diambil alih oleh teknologi.
Pekerjaan-pekerjaan tersebut antara lain: jurnalis, sekretaris, penulis, programer dan sebagainya.
AI mampu mengerjakan tugas secara otomatis dengan akurasi yang tepat serta tak kenal waktu sehingga dipandang jauh lebih efisien dibandingkan manusia.
Sekarang sudah ada ChatGPT yang digunakan dalam perekrutan karyawan baru.
Di sisi lain AI juga diprediksi menyiapkan peluang pekerjaan baru di masa depan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah sumber daya manusia pantas untuk berkiprah di bidang baru itu.
Pemuda diharuskan untuk tidak berhenti mengembangkan potensi mereka seperti melatih kepemimpinan dan pengambilan keputusan, mendalami pemahaman akan suatu makna dan konteks, serta selalu kreatif dam adaptif.
Skill-skill tersebut belum mampu untuk diprogram pada AI.
Tantangan kedua yang ditimbulkan AI adalah deepfake atau kejahatan kriminal yang terdigitalisasi.
Teknologi AI mampu meniru suara dan mengubah wajah manusia di internet sehingga memudahkan penyalahgunaan teknologi dalam penipuan siber.
Data-data pribadi yang disimpan di internet juga rentan dilanggar oleh teknologi AI.
AI bahkan mampu menyebarkan berita hoaks, karena akses mereka terhadap berbagai informasi.
Tantangan berikutnya dari AI adalah munculnya budaya-budaya negatif di kalangan pemuda.
Mantan Menteri Sosial RI, Khofifah Indah Parawansa memaparkan bahwa Generasi Alfa cenderung memiliki pribadi yang individualis serta antisosial karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama komputer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Bahrul-Ikhsan-3re.jpg)