Profil
Profil Irjen Pol Purn Mathius Salempang, Pernah Selesaikan Konflik Etnis dalam Waktu 3 Hari
Salah satu prestasi terbaiknya yang banyak dikenang orang adalah, ketika ia menjadi Kapolda Kalimantan Timur tahun 2010 lalu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Mathius-Salempang.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Toraja tidak pernah kehabisan tokoh yang inspiratif. Ada banyak tokoh-tokoh Toraja yang kini berkiprah di tingkat nasional dan memberi sumbangsih bagi pembangunan negeri ini.
Salah satunya adalah Irjen Pol (Purn) Mathius Salempang.
Irjen Pol (Purn) Mathius Salempang adalah lulusan terbaik Akabri 1981. Salah satu prestasi terbaiknya yang banyak dikenang orang adalah, ketika ia menjadi Kapolda Kalimantan Timur tahun 2010 lalu.
Ia berhasil menyelesaikan pertikaian antar etnis di Tarakan hanya dalam 3 hari. Sebuah prestasi yang luar biasa dan menjadi catatan sejarah dalam Kepolisian Republik Indonesia sebagai penyelesaian konflik tercepat.
Baca juga: Gubernur Sulut Yulius Selvanus Mengaku Cucu Pongtiku, Pahlawan Nasional asal Toraja
Baca juga: Sosok Yulius Selvanus: Putra Toraja Jadi Gubernur Sulawesi Utara, Pernah Tugas Perang di Papua
Di bawah kepemimpinannya sebagai Kapolda Kalimantan Timur, Polri berhasil mengembalikan pengungsi 40.100 jiwa ke rumah masing-masing.
Tahun 2006/2007, ia juga berhasil mengungkap kasus pertanahan. Sejumlah prestasi telah ditorehkan, pada umumnya kasus-kasus besar yang ditangani Polri selalu dipercaya menjadi ketua tim.
Irjen Pol (purn) Matihus Salempang Lahir di Palopo Sulawesi Selatan 9 Juni 1953, Ayahnya bernama Johan Salempang sedangkan ibunya bernama Dina Indan.
Ia adalah anak ke 3 dari 9 bersaudara, 4 diantaranya adalah anak angkat. Masa kecilnya dihabiskan disebuah desa yang bernama Mala’kiri sebelah utara kota Rantepao Toraja Utara.
Ia pernah mengenyam pendidikan di SD Katolik Mala’kiri, naik kelas 4 pindah ke SD Katolik Rantepao dan lulus tahun 1964. Setelah lulus di SD Katolik Rantepao, ia melanjutkan pendidikannya di SMP Katolik Rantepao lulus tahun 1967 lalu masuk di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Rantepao lulus tahun 1970.
Bintang Pelajar
Semenjak duduk di bangku Sekolah Dasar, Matihus sudah menunjukkan kepiawaiannya, Ia mampu menjadi bintang pelajar dan mengalahkan rekan-rekan palajar lainnya. Era tahun 60 an hingga 70 an adalah era dimana Toraja memasuki zaman keemasan dalam bidang pendidikan, begitu banyak orang tua dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tengah menitipkan anaknya untuk menimba ilmu di Toraja.
Di masa itu, Matihus sudah berhasil menjadi juara satu dalam berbagai jenjang pendidikan. Ayahnya pernah bercerita kepada Matius bahwa waktu mengenyam pendidikan di SPG, semua guru-guru nya mengatakan bahwa Matius merupakan siswa yang paling cerdas dan pintar
Baca juga: Kisah Haru Petani di Lutim, Diampuni Kejati usai Curi Merica Dua Karung
Baca juga: Kisah Martha Lobo, Nenek 79 Tahun yang Masih Aktif Berjualan di Pasar Pagi Rantepao
Ada keinginan Yayasan Pedidikan Kristen Toraja (YPKT) ingin menyekolahkan dan akan memberikan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Saat dinyatakan lulus di SPG bukan Matius yang diberangkatkan melainkan orang lain.
Jadi Polisi
Begitu ayahnya mengetahui bahwa bukan Mathius yang diberangkatkan, ayahnya kecewa. Ia pun di arahkan masuk sekolah pendeta, sempat mendaftar di STT Rantepao dan dinyatakan lulus. Memang Matius tidak ditakdirkan menjadi seorang pendeta, ia lebih memilih berangkat ke Makassar ketimbang kuliah di STT.