Ini Makna dan Filosofi Tongkonan, Rumah Adat Orang Toraja
Tongkonan merupakan bahasa Toraja yang berarti tempat, mendapat akhiran “an” sehingga berarti tempat duduk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Rumah-Tongkonan.jpg)
Bagian atap ini digunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka.
Dilansir dari katadata.co.id, rumah Tongkonan selalu menghadap ke Utara.
Menurut kepercayaan, utara dianggap sebagai arah suci dan tempat bersemayam Puang Matua (sang pencipta alam semesta).
Bagian atap dibuatkan lubang untuk jalan masuk dan berkah dari Puang Matua.
Untuk membangun rumah Tongkonan membutuhkan dana yang besar. Pembangunan satu Tongkonan bisa menghabiskan dana sekitar Rp 2-3 miliar.
Bangsawan Toraja yang memiliki Tongkonan umumnya berbeda dengan Tongkonan dari orang biasanya. Perbedaannya ada di bagian dinding, jendela, dan kolom.
Tongkonan memiliki tiga ikatan batin, yang dalam bahasa Toraja, yaitu Lolo Tau (anggota Keluarga), Lolo Patuan (hewan), dan Lolo Tanaman (tanaman).
Itulah sebabnya atribut yang ada di Tongkonan selalu berhubungan dengan ketiga lolo tersebut.
Ukiran-ukiran yang ada di dinding Tongkonan adalah gambar yang diukir menyerupai dari benda-benda langit, tanaman, hewan. Ukiran ini memiliki arti dan makna.
Permukaan kayu ketiga elemen tersebut diukir halus dan detail. Motifnya ada yang bergambar ayam, babi, dan kerbau. Selain itu diselang-seling dengan sulur-sulur mirip batang tanaman.
Pada kolom utamanya juga berfungsi sebagai tempat menggantungkan tengkorak kerbau, sebagai tanda keberhasilari mengadakan upacara.
Bagi orang Toraja, kerbau selain sebagai hewan temak mereka juga menjadi lambang kemakmuran dan status. Oleh sebab itu, penyembelihan kerbau selalu menjadi acara yang ditunggu dalam sebuah pesta.(*)