Daerah Lain KLB, Dinkes Belum Temukan Kasus Campak di Toraja Utara
Gejala umumnya meliputi demam, lemas, batuk, pilek, mata merah, hingga munculnya bintik merah
Penulis: Zul Fadli | Editor: Imam Wahyudi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/belum-ada-kasus-campak-di-toraja-utara.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Dinas Kesehatan (Dinkes) Toraja Utara memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus campak terkonfirmasi di Toraja Utara, Sulsel.
Meski demikian, Dinas kesehatan Toraja Utara tetap tingkatkan kewaspadaan menyusul laporan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
Campak sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus morbilivirus dan sangat mudah menular melalui percikan droplet.
Gejala umumnya meliputi demam, lemas, batuk, pilek, mata merah, hingga munculnya bintik merah pada kulit beberapa hari setelah gejala awal.
Kepala Dinas Kesehatan Toraja Utara, dr Remen Taula'bi', menyampaikan bahwa secara regional terdapat empat kabupaten di Sulsel yang tergolong memiliki kasus Campak terbanyak.
Yakni Kota Makassar, Sinjai, Wajo dan Luwu.
"Hingga hari ini, Toraja Utara masih nol kasus," ujarnya di Kantor Dinas Kesehatan Toraja Utara, Selasa (14/4/2026).
Ia mengaku, di Toraja Utara sempat ditemukan beberapa kasus dengan gejala menyerupai campak.
"Tapi saat dilakukan pemeriksaan sampel hasilnya dinyatakan negatif," Ujarnya.
Sehingga, sampai hari ini, kasus campak di Toraja Utara masih nol.
Meski demikian, pihaknya tidak ingin lengah.
Dinkes bersama puskesmas jajaran terus melakukan langkah antisipasi agar tidak terjadi penularan di kemudian hari.
Menurut dr Remen, untuk mencegah penyebaran, dinkes menekankan pentingnya imunisasi campak pada anak.
Selain itu, pihaknya juga aktif melakukan sweeping atau kunjungan rumah bagi anak yang belum datang ke Posyandu, agar tetap mendapatkan imunisasi.
Ia juga menegaskan bahwa imunisasi tidak sepenuhnya menjamin seseorang bebas dari campak.
"Tapi paling tidak, dapat mengurangi tingkat keparahan gejala jika terinfeksi," katanya.
Selain imunisasi, masyarakat juga dihimbau untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seperti rutin mencuci tangan, menggunakan masker saat sakit, serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat.
"Dan yang paling penting adalah pencegahan. Jangan sampai yang saat ini nol menjadi ada. Kami akan terus berupaya menjaga kondisi ini," tutupnya.
Kabid P2P Dinas Kesehatan Toraja Utara, Agustinus Rante, menyampaikan jika pemberian vaksin pertama kali diberikan pada bayi usia 9 bulan.
Kemudian dilanjutkan dosis kedua sebagai penguat (booster) pada balita yakni usia 18 hingga 24 bulan.
"Interval pemberian vaksin pertama menuju vaksin kedua itu minimal enam bulan," ungkapnya.
Dinkes juga terus memperkuat sistem surveilans.
Setiap laporan kasus dengan gejala klinis akan segera ditindaklanjuti melalui pelacakan dan pemeriksaan laboratorium guna memastikan apakah benar merupakan campak atau penyakit lain seperti rubella yang memiliki gejala serupa.(*)
| Ada di Sulsel, 46 Daerah KLB Campak, 17 Anak Meninggal |
|
|---|
| Hanya Tiga dari 13 Klinik di Toraja Utara Layani BPJS Kesehatan, CKG Baru Berlaku di 28 Puskesmas |
|
|---|
| WHO: Lebih dari Setengah Penduduk Dunia Berisiko Tinggi Terjangkit Campak pada 2024 |
|
|---|
| Kasus Covid Naik, Dinkes Toraja Utara Pastikan Stok Vaksin Tersedia |
|
|---|
| DPRD Toraja Utara Pertanyakan Alur Penerbitan Izin Operasional RSUD Pongtiku di Marante |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.