Jumat, 15 Mei 2026

30 Tahun Berdiri, RBM Toraja Utara Layani 500 Anak Disabilitas

yayasan yang berlokasi di Tallulolo, Kecamatan Kesu’, Toraja Utara, sekitar 5,6 kilometer dari Alun-alun Rantepao, telah membina ratusan

Tayang:
zoom-inlihat foto 30 Tahun Berdiri, RBM Toraja Utara Layani 500 Anak Disabilitas
Tribun Toraja/Anastasya Saidong Ridwan
PENYANDANG DISABILITAS - Pembina dan murid binaan Yayasan Rehabilitasi Bersumber Masyarakat (RBM) Toraja Utara, foto bersama di gedung RBM yang berlokasi di Tallulolo, Kecamatan Kesu’, Sulawesi Selatan, Jumat (13/2/2026). 

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Selama tiga dekade berdiri, Yayasan Rehabilitasi Bersumber Masyarakat (RBM) Toraja Utara, telah melayani sekitar 500 anak penyandang disabilitas yang tersebar di Kabupaten Toraja Utara dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Sekretaris Yayasan RBM Toraja Utara, Abi Salusu, menjelaskan lembaga tersebut bergerak di bidang pemberdayaan, pendidikan, dan pendampingan bagi anak disabilitas beserta keluarganya.

“RBM didirikan oleh Pengurus Pusat Persekutuan Wanita Gereja Toraja (PP PWGT) sebagai bentuk pelayanan kasih. Kami melayani semua agama, semua suku, dan semua golongan,” ujar Abi saat ditemui, Jumat (13/2/2026).

Ia menuturkan, cikal bakal pelayanan dimulai pada awal 1994 ketika PP PWGT merancang program khusus bagi penyandang disabilitas.

Dua pra kader kala itu dikirim ke Jakarta, Malang, dan Manado untuk mempelajari metode pengajaran dan pelayanan anak berkebutuhan khusus.

Pada Agustus 1994, pelayanan RBM resmi berjalan di tengah masyarakat.

Kini, yayasan yang berlokasi di Tallulolo, Kecamatan Kesu’, Toraja Utara, sekitar 5,6 kilometer dari Alun-alun Rantepao, telah membina ratusan anak di berbagai wilayah.

Untuk wilayah Tana Toraja, binaan tersebar di Kecamatan Rembon (Lembang Rano dan Lembang Buah Kayu), Bonggakaradeng, Makale, dan Sangalla. 

Sementara di Toraja Utara, pembinaan menjangkau Kecamatan Sa’dan, Dende, dan Rantepao.

“Jumlah pembina kader ada 26 orang, ditambah direktur dan staf lima orang, satu pendeta, serta sembilan pengurus yayasan,” jelas Abi.

Awalnya, RBM merupakan unit pelayanan di bawah PWGT.

Namun pada 2022, atas masukan mitra dari Jerman dan Belanda, lembaga tersebut kemudian dibentuk menjadi yayasan berbadan hukum.

Setelah itu, RBM mulai mendapat dukungan pemerintah, termasuk satu unit mobil bus sekolah serta beberapa bantuan sosial.

Dalam proses pembinaan, RBM membekali anak-anak dengan berbagai keterampilan, seperti anyaman kandaure (manik-manik khas Toraja), pembuatan kue tradisional seperti kue tori, pembuatan patung hias, ukiran Toraja pada baki dan tempat tisu, membatik, hingga pembuatan selendang dari kain tenun.

“Hasil keterampilan itu sepenuhnya untuk anak-anak binaan, bukan untuk pengurus. Tujuannya agar mereka memiliki penghasilan dan kemandirian ekonomi,” kata Abi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved