Jumat, 17 April 2026

Liciknya Briptu Rizka Soal Pembunuhan Suaminya Brigadir Esco, Ditetapkan Tersangka

Meski sudah hilang beberapa hari, Briptu Rizka tidak membuat laporan orang hilang, baik ke pemerintahan setempat ataupun ke polisi.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Liciknya Briptu Rizka Soal Pembunuhan Suaminya Brigadir Esco, Ditetapkan Tersangka
tribunnews
Briptu Rizka Sintiani dan Brigadir Esco Faska Rely. 

TRIBUNTORAJA.COM - Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapan Briptu Rizka Sintiyani sebagai tersangka pembunuhan Brigadir Esco Faska Relly, anggota Intel Polsek Sekotong. 

Ironisnya, Briptu Rizka merupakan istri dari korban Brigadir Esco.

Rizka merupakan polisi wanita (polwan) yang bertugas di Polres Lombok Barat (Lobar). Ia berasal dari Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat.

Adapun Brigadir Esco berasal dari Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.

"Ya hasil gelar perkara penyidik menetapkan istrinya menjadi tersangka," kata Kabid Humas Polda Nusa Tenggara Barat (NTB), Kombes Pol Mohammad Kholid, saat dikonfirmasi Jumat (19/9/2025).

Penetapan tersangka ini dilakukan setelah penyidik memeriksa 53 saksi dan beberapa ahli untuk mengungkap kasus tewasnya Brigadir Esco.

Namun, Kholid tidak menjelaskan peran dari Briptu Rizka dalam kasus dugaan pembunuhan yang menewaskan suaminya Brigadir Esco.

Polda NTB turun tangan menyelidiki kematian Brigadir Esco yang dinilai tidak wajar.

Jasad Brigadir Esco pertama kali ditemukan Minggu, 24 Agustus 2025, oleh mertua Esco atau ayah dari Briptu Rizka, Dalem Amaq Siun, di kebun belakang rumah keluarga di Dusun Nyiur Lembang Dalem, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat.

Saat itu, Siun tengah mencari ayamnya yang hilang.

Jenazah Brigadir Esco ditemukan dalam kondisi leher terikat tali di sebuah kebun kosong di kaki bukit yang lokasinya dekat dengan rumah Brigadir Esco.

Saat ditemukan, kondisi jasad mengenaskan dengan leher terjerat tali, wajah rusak, tubuh membengkak, dan dikerumuni lalat.

Ayah almarhum Brigadir Esco, Syamsul Herawadi, menilai kematian anaknya janggal karena melihat bekas luka pada wajah dan tubuh korban.

Hasil otopsi pada jenazah korban menjelaskan bahwa kematian korban adalah pembunuhan, bukan bunuh diri.

Sebelum ditemukan meninggal dunia di kebun dekat rumahnya, keluarga sempat hilang kontak dengan Brigadir Esco.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved