Dampak Penolakan Proyek Geothermal, Warga Tutup Gunung Buntu Karua Tana Toraja
Koordinator Masyarakat Adat Balla, Daniel Somba’, mengatakan keputusan penutupan dilakukan karena situasi
Penulis: Anastasya Saidong Ridwan | Editor: Imam Wahyudi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Puncak-Gunung-Buntu-Karua-4.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Gunung Buntu Karua di Lembang Balla, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, untuk sementara waktu masih ditutup bagi para pendaki hingga saat ini, Kamis (14/5/2026).
Penutupan tersebut dilakukan masyarakat setempat menyusul gejolak penolakan proyek geothermal yang hingga kini masih berlangsung di wilayah Balla.
Koordinator Masyarakat Adat Balla, Daniel Somba’, mengatakan keputusan penutupan dilakukan karena situasi di lapangan dinilai belum kondusif.
“Berbicara tentang para pendaki gunung, kalau mereka betul-betul cinta alam setidaknya mereka juga peduli dengan gejolak yang berlangsung di Balla mengenai adanya rancangan proyek geothermal,” ujarnya saat ditanya alasan Buntu Karua ditutup.
Menurut Daniel, sebagian masyarakat masih waspada terhadap rencana proyek panas bumi tersebut sehingga aktivitas pendakian sementara dibatasi.
“Pencinta alam jangan maunya naik saja. Untuk sementara alasan kita menutup Gunung Buntu Karua karena situasi dan kondisi belum maksimal terkait gejolak penolakan proyek geothermal,” katanya.
Ia berharap para pendaki dapat memahami kondisi masyarakat setempat yang hingga kini masih menunggu kejelasan arah kebijakan pemerintah terkait proyek tersebut.
“Pemerintah belum bisa memberikan izin karena gejolak permasalahan mengenai penolakan geothermal belum jelas arah mata anginnya,” lanjutnya.
Meski demikian, Daniel tetap mengajak para pencinta alam untuk ikut menyuarakan perlindungan kawasan pegunungan tersebut.
“Kami menyarankan kepada pendaki untuk ikut menyuarakan bahwa alam ini jangan dirusak,” ujarnya.
Gunung Buntu Karua sendiri dikenal sebagai salah satu gunung favorit pendaki di Sulawesi Selatan dengan ketinggian mencapai 2.763 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Gunung ini juga dijuluki “Gunung Delapan” karena dipercaya berasal dari satu gunung besar yang meletus lalu terpecah menjadi delapan puncak kecil.
Selain panorama hutan lumutnya, jalur pendakian Gunung Buntu Karua memiliki delapan pos sebelum mencapai puncak.
Pendaki juga kerap menemukan buah kalpataru dengan tekstur keras menyerupai batu dan bentuk mirip buah cemara berwarna coklat yang sering dijadikan hiasan kalung.
Di balik keindahan alamnya, wilayah Bittuang juga diketahui memiliki potensi panas bumi yang cukup besar.
| Dapur MBG di Bittuang Tana Toraja Dekat Kandang Ayam, Bau dan Banyak Lalat |
|
|---|
| Bukan Hanya Bittuang, Proyek Geothermal Juga Akan Dibangun di Sangalla Tana Toraja |
|
|---|
| Sekda Tana Toraja: Pernyataan Camat Bittuang Soal Geothermal Bukan Sikap Pemkab |
|
|---|
| Camat Bittuang Imbau Warga Tak Khawatir Proyek Geothermal, Pernyataannya Viral di Media Sosial |
|
|---|
| Terkait Proyek Geothermal, Masyarakat Adat Balla Sebut Pemkab Tana Toraja Tak Paham Wilayah Sendiri |
|
|---|