Jumat, 5 Juni 2026

Berdiri di Tengah Perkampungan Kristen Toraja, Masjid Ridho Allah Bittuang Butuh Ustad dan Toa

Masjid tersebut dibangun pada 2015 dari hasil patungan enam KK yang selama puluhan tahun tidak memiliki musholla maupun masjid tetap.

Tayang:
zoom-inlihat foto Berdiri di Tengah Perkampungan Kristen Toraja, Masjid Ridho Allah Bittuang Butuh Ustad dan Toa
Tribun Toraja/Anastasya Saidong Ridwan
BUTUH BANTUAN - Jamaah Masjid Ridho Allah foto beersama usai salat Tarwih, Senin (2/3/2026). Masjid berada di Dusun Sarong, Lembang Bau, Kecamatan Bittuang, Tana Toraja, Sulsel ini butuh bantuan perbaikan masjid. 

TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Di tengah perbukitan Dusun Sarong, Lembang Bau, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, berdiri sederhana Masjid Ridho Allah.

Bangunan itu bukan sekadar tempat ibadah, tetapi simbol keteguhan enam kepala keluarga (KK) Muslim yang hidup membaur dengan masyarakat lainnya yang mayoritas beragam Kristen.

Masjid tersebut dibangun pada 2015 dari hasil patungan enam KK yang selama puluhan tahun tidak memiliki musholla maupun masjid tetap.

Tanah tempat berdirinya masjid dibeli secara swadaya oleh jamaah.

Saat awal pembangunan, warga Kristen sekitar turut membantu.

“Dulu kami tidak punya tempat ibadah. Kami patungan beli tanah dan mulai membangun. Waktu itu masyarakat Kristen di sini juga ikut membantu. Solidaritas di sini sangat kuat,” ujar pengurus masjid, Usman Bongga Langi, Selasa (3/3/2026).

Sebelum masjid berdiri, jamaah harus menempuh jarak sekitar 16 kilometer ke Dusun Pali untuk melaksanakan Salat Jumat maupun Salat Id.

Kondisi itu mendorong mereka berinisiatif membangun rumah ibadah sendiri di kampung halaman.

Proses pembangunan tidak ditopang donatur besar.

Sumbangan datang sedikit demi sedikit.

Peran penyuluh agama setempat saat itu, Fatmawati, turut memberi dukungan moral hingga masjid akhirnya berdiri.

Kini, di balik keberadaannya sebagai simbol toleransi di Kecamatan Bittuang, kondisi masjid memprihatinkan.

Dinding tampak retak akibat gempa, cat mulai kusam, dan beberapa bagian jendela lapuk dimakan rayap.

Fasilitas air wudhu sangat terbatas, hanya satu kran yang digunakan bergantian oleh jamaah laki-laki dan perempuan.

Toilet pun membutuhkan perbaikan karena atapnya mulai rapuh.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved