Sabtu, 25 April 2026

Kasus HIV Toraja Utara Urutan 5 Terbanyak di Sulsel, Jumlahnya Menurun

Pada tahun 2023 terdapat 189 kasus HIV di Toraja Utara dan pada Januari-September 2024 turun menjadi 66 kasus, lalu Januari-Agustus 2025 42 kasus.

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Kasus HIV Toraja Utara Urutan 5 Terbanyak di Sulsel, Jumlahnya Menurun
ist
Ilustrasi HIV/Aids 

TRIBUNTORAJA.COM - Jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Toraja Utara menempati urutan kelima terbanyak di Sulawesi Selatan.

Dinas Kesehatan Sulsel mencatat, sepanjang Januari hingga Agustus 2025, terdapat 1.214 kasus baru, dengan Makassar dan Gowa menjadi wilayah dengan angka tertinggi.

Sementara Toraja Utara terdapat 42 kasus. 

Jumlah ini termasuk menurun dibanding tahun 2024 lalu dan tahun 2023.

Sub Koordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Toraja Utara, Yety Bato Payung Allo, memaparkan, pasien baru hingga September 2024 mencapai 66 orang.

"Total ada 66 pasien baru hingga September 2024. Data untuk Oktober dan awal November belum direkap," ujarnya saat Jumat (15/11/2024) siang lalu.

Sementara data Dinas Kesehatan Toraja Utara menunjukkan bahwa pada 2023 terdapat 189 kasus HIV.

Adapun pada periode Januari hingga Juni 2024, tercatat tambahan 32 kasus baru.

Sedangkan, pada 2023, pasien HIV/AIDS yang meninggal umumnya sebanyak 11 orang, delapan pria dan tiga Wanita, berusia 26-48 tahun.

Adapun hingga September 2024, korban meninggal karena HIV adalah laki-laki dengan rentang usia 35-55 tahun. Jumlahnya tidak disebutkan.

Dinas Kesehatan Toraja Utara, kata Yety, terus melakukan berbagai upaya medis bagi para penderita HIV/AIDS.

"Penanganan kasus ini memerlukan keterlibatan semua pihak, termasuk Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak. Dinas Kesehatan juga aktif turun ke lapangan untuk memberikan obat kepada ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dan melakukan sosialisasi ke Tempat Hiburan Malam (THM),” paparnya.

Lelaki Suka Lelaki

Pola penularan HIV didominasi oleh hubungan seksual berisiko, terutama hubungan lelaki suka lelaki (LSL). Pola ini mencatat 572 kasus, hampir separuh dari total kasus baru.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jalur penularan lainnya, seperti pelanggan pekerja seks (59 kasus), ibu hamil (54 kasus), pasangan ODHIV (52 kasus), maupun pekerja seks perempuan (22 kasus).

Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr Ishaq Iskandar, menegaskan pencegahan menjadi kunci utama.

“Jaga hawa nafsu, terutama setia sama pasangan, tidak selingkuh, tidak seks bebas dan seks menyimpang. Faktor seks bebas, terutama sesama jenis, jadi penyumbang terbesar,” tegasnya.

Mayoritas Penderita Usia Produktif

Data menunjukkan 74 persen pasien HIV di Sulsel adalah laki-laki, sementara perempuan mencakup 26 persen.

Dari sisi usia, 51 persen berada pada rentang 25–49 tahun, 37 persen di usia 15–24 tahun, 7 persen pada anak-anak di bawah 15 tahun, dan 5 persen di atas 50 tahun.

Artinya, epidemi HIV di Sulsel terutama menyerang kelompok usia produktif, yang berpotensi menurunkan daya saing ekonomi jika tidak segera ditangani.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sulsel, Yusri, menyebutkan Makassar mencatat 563 kasus atau 46 persen dari total kasus di provinsi ini. 

Gowa berada di posisi kedua dengan 119 kasus, disusul Palopo 79 kasus, Bone 46 kasus dan Toraja Utara 42 kasus. 

Kabupaten dengan angka terendah adalah Enrekang 7 kasus, Luwu Utara 8 kasus, dan Pangkep 9 kasus.

Tantangan Penanganan

Selain LSL, penularan juga ditemukan melalui jarum suntik (3 kasus), transfusi darah terkontaminasi, serta dari ibu ke bayi melalui kehamilan, persalinan, atau pemberian ASI.

Pemerintah menghadapi dilema dalam upaya menjangkau kelompok kunci seperti LSL: strategi harus inklusif, tetapi tetap memperhatikan sensitivitas sosial dan norma budaya. Edukasi berbasis komunitas dengan melibatkan pendidik sebaya disebut bisa menjadi solusi.

Kombinasi pencegahan kini terus digencarkan, mulai dari penggunaan kondom dan pelicin, skrining dan pengobatan IMS, distribusi alat suntik steril, hingga terapi rumatan metadon.

Jika tren peningkatan rata-rata 152 kasus per bulan terus berlanjut, Sulsel berpotensi menembus 1.800 kasus baru hingga akhir 2025.

Angka ini menjadi alarm serius bahwa epidemi HIV/AIDS di Sulsel masih jauh dari terkendali.(faqih)

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved