Sabtu, 11 April 2026

BMKG: Fenomena Suhu Dingin saat Malam Hari Diperkirakan Berlangsung hingga September

BMKG memprediksi suhu dingin malam hingga pagi hari atau fenomena bediding akan bertahan hingga September 2025. Ini penyebab dan wilayah terdampak...

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto BMKG: Fenomena Suhu Dingin saat Malam Hari Diperkirakan Berlangsung hingga September
Tribun Toraja
SUHU DINGIN - Foto arsip: Seorang pengunjung di Objek Wisata Pango-pango, Makale Selatan, Tana Toraja, berbalut sarung untuk melindungi diri dari suhu udara dingin. Terkini, BMKG memprediksi suhu dingin malam hingga pagi hari atau fenomena bediding akan bertahan hingga September 2025. Ini penyebab dan wilayah terdampak suhu dingin di Indonesia. 

TRIBUNTORAJA.COM – Suhu udara di sejumlah wilayah Indonesia terasa lebih dingin saat malam hingga pagi hari meskipun negara sedang berada di musim kemarau.

Fenomena ini dikenal sebagai bediding atau mbedhidhing dalam bahasa Jawa.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui akun Instagram resminya, @infobmkg, menjelaskan bahwa fenomena bediding merupakan salah satu tanda puncak musim kemarau.

 

 

Bediding dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti minimnya tutupan awan, rendahnya kelembapan udara, serta adanya aliran angin kering dari Australia yang sedang mengalami musim dingin.

“Selama periode ini, curah hujan berkurang dan langit cenderung cerah. Kondisi tersebut menyebabkan panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer saat malam hari, sehingga suhu udara menurun drastis menjelang pagi,” tulis BMKG, dikutip Tribun Toraja, Minggu (13/7/2025).

Selain itu, kekeringan turut mengurangi jumlah uap air di permukaan bumi, padahal uap air berperan penting dalam menyimpan panas di atmosfer.

 

Baca juga: Suhu di Toraja Capai 15 Derajat Celcius, BMKG: Masuk Musim Kemarau

 

Saat kandungan uap air rendah, tidak ada medium yang cukup untuk menahan panas radiasi balik dari bumi ke atmosfer.

Fenomena bediding semakin terasa ketika angin muson timur dari Australia bertiup melewati wilayah selatan Indonesia.

Angin ini bersifat dingin dan kering karena berasal dari kawasan yang tengah mengalami musim dingin.

Fenomena bediding paling terasa di wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana suhu malam hingga pagi hari cenderung lebih rendah dibandingkan daerah lain.

 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved