Jumat, 12 Juni 2026

Perguruan Tinggi Sumbang 1 Juta Pengangguran

Yang paling mencolok adalah fakta bahwa lulusan universitas, yang diharapkan menjadi penggerak kemajuan, justru mendominasi

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Perguruan Tinggi Sumbang 1 Juta Pengangguran
ist
Ilustrasi mencari kerja lewat job fair. 

TRIBUNTORAJA.COM – Kementerian Ketenagakerjaan mencatat, per Februari 2025, total pengangguran di Indonesia mencapai 7,28 juta orang.

Dari jumlah itu, perguruan tinggi menyumbang lebih dari 1 juta pengangguran atau sarjana tanpa pekerjaan. 

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Kementerian Ketenagakerjaan per Februari 2025.

Data ini memperlihatkan betapa rapuhnya jembatan antara dunia kampus dan dunia kerja.

"Masalah pengangguran ini adalah tantangan besar yang harus kita selesaikan secara menyeluruh," ujar Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun INDEF 2025 di Jakarta, Rabu (2/7/25).

Berdasarkan data BPS, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia kini berada di angka 4,76 persen, naik 1,11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Yang paling mencolok adalah fakta bahwa lulusan universitas, yang diharapkan menjadi penggerak kemajuan, justru mendominasi daftar pencari kerja.

Tak hanya itu, lulusan SD dan SMP juga masih mendominasi angka pengangguran, dengan jumlah mencapai 2,42 juta orang.

Yassierli menekankan bahwa problem ini bukan sekadar soal ketersediaan lapangan kerja, tetapi ketidaksesuaian antara supply dan demand di pasar tenaga kerja.

Sebagai upaya menjawab krisis ini, pemerintah menggelontorkan berbagai program strategis.

Salah satunya adalah Kopdes Merah Putih, yaitu pembentukan 80 ribu koperasi desa dan kelurahan yang ditargetkan bisa menyerap lebih dari 2 juta tenaga kerja.

“Kalau satu koperasi menyerap 25 pekerja, akan ada 2 juta lapangan kerja baru,” jelas Yassierli.

Pemerintah juga mengandalkan program prioritas lainnya.

Seperti makan bergizi gratis di 50 ribu sekolah, hilirisasi industri, ketahanan pangan dan energi, serta masuknya investasi lewat Badan Pengelola Investasi Danantara.

Yassierli menyebut, semua program tersebut adalah “lapangan pekerjaan yang ada di depan mata” jika dijalankan secara terkoordinasi.

Sementara itu, Menteri P2MI, Abdul Kadir Karding mendorong wacana perluasan kerja ke luar negeri sebagai solusi cepat dan realistis.

Dalam talkshow di Universitas Diponegoro, ia bahkan menyebut kerja migran bukan lagi opsi terakhir, melainkan strategi utama.

“Kalian (mahasiswa) adalah calon pengangguran jika tidak melihat peluang global. Maka, segera pikirkan kerja ke luar negeri secara legal,” kata Karding.

Ia menilai Pekerja Migran Indonesia (PMI) terampil bisa menjadi alat diplomasi budaya Indonesia, seperti halnya Korea Selatan yang menyebarkan pengaruh lewat industri hiburan.

“Kita bisa kuasai dunia dengan PMI berkemampuan global. Jangan anggap ini pelarian, ini pintu ke dunia,” tandasnya.(Kompas.com/zis)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved