Jumat, 8 Mei 2026

Angka Kematian Jamaah Haji Indonesia Turun Signifikan

Menurutnya, tren ini tak lepas dari kerja keras petugas haji lintas sektor termasuk tim kesehatan dan kedisiplinan jamaah.

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Angka Kematian Jamaah Haji Indonesia Turun Signifikan
ist
KONDISI JAMAAH - Amirul Hajj RI, Nasaruddin Umar bersama Taruna Ikrar (bidang kesehatan) meninjau kondisi jamaah haji di Armuzna. Angka Kematian Jamaah Haji Indonesia tahun ini turun signifikan 

TRIBUNTORAJA.COM - Anggota Amirul Hajj 2025 Bidang Kesehatan, Taruna Ikrar mengonfirmasi angka kematian jamaah haji menjadi salah satu indikator penting evaluasi operasional haji tiap tahun dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.

Kabar baiknya bagi Indonesia, angka kematian jamaah hingga operasional haji hari ke-39 hari ini, Minggu (8/62025), ada penurunan dibanding tahun lalu.

Meski demikian, Taruna Ikrar yang juga Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) RI ini menegaskan petugas haji Indonesia termasuk di bidang kesehatan masih harus bekerja keras untuk mencegah bertambahnya angka kematian jamaah haji Tanah Air.

Taruna menyebut angka kematian jamaah haji Indonesia tahun ini menurun signifikan.

Menurutnya, tren ini tak lepas dari kerja keras petugas haji lintas sektor termasuk tim kesehatan dan kedisiplinan jamaah.

“Kita bersyukur, jamaah banyak mengikuti arahan petugas kesehatan,” ujar Taruna di Mina.

Termasuk mengikuti imbauan tidak beraktivitas berlebihan di luar ruangan antara pukul 10.00 pagi hingga 16.00, mengingat cuaca saat itu cukup terik di Arab Saudi di atas 40 derajat celcius.

Jumlah jamaah haji Indonesia tahun ini mencapai 221.000 orang.

Dari jumlah itu, hampir 50 persen adalah lanjut usia. Sebagian besar jamaah juga memiliki penyakit bawaan atau komorbid.

“Banyak jamaah kita yang hipertensi, diabetes, bahkan ada yang pneumonia,” ucapnya.

Situasi ini menjadi tantangan serius bagi tim kesehatan.

Apalagi, jumlah tenaga medis Indonesia di Tanah Suci sangat terbatas. Jumlahnya 1.050 melayani 221 ribu jamaah.

“Dokter spesialis kita hanya 28 orang,” ungkap Taruna.

Meski terbatas, mereka terus bekerja tanpa kenal lelah. Kondisi cuaca panas ekstrem menjadi tantangan tambahan di Arafah.

Panas ekstrem bisa memicu dehidrasi dan gangguan jantung. Namun, edukasi kepada jamaah terbukti efektif.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved