7 Ribu Warga Miskin Esktrem Daftar Sekolah Rakyat
siswa dengan intelligence quotient (IQ) 80 pun berpeluang diterima asalkan memenuhi persyaratan sebagai keluarga
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/rakyat-3see.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial RI, Agus Zainal Arifin menegaskan bahwa penerimaan siswa dalam program Sekolah Rakyat haruslah berasal dari keluarga miskin ekstrem dan miskin.
"Perlu saya sampaikan, murid yang harus belajar di sini (Sekolah Rakyat), hanya dibatasi bagi keluarga miskin ekstrem dan miskin atau kalau pada DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional) dipilih desil yang ke satu dan kedua. Kalau bisa (diprioritaskan desil ke satu) kalau masih ada slot maka desil yang kedua," ujar Agus Zainal saat audiensi dengan Komisi X DPR-RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (19/5/25).
Agus Zainal mengungkapkan kalau penerimaan calon siswa tidak diukur berdasarkan kecerdasan akademik.
Ia menjelaskan bahwa program sekolah gratis yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto ini hanya mempertimbangkan validitas administrasi (dokumen) dan status ekonomi keluarga yang anak-anaknya sangat membutuhkan akses pendidikan.
Jadi, kata Agus, siswa dengan intelligence quotient (IQ) 80 pun berpeluang diterima asalkan memenuhi persyaratan sebagai keluarga miskin ekstrem atau miskin.
“Seleksinya diutamakan hanya pada administrasi saja. Tidak pada kecerdasan atau kemampuan akademik. Termasuk kalau mungkin IQ-nya misalnya 80 pun tidak masalah,” tegasnya.
Namun, pengecualian diberikan bagi calon siswa yang memiliki penyakit menular.
“Mungkin seleksi yang agak beda sedikit adalah tentang kesehatan, karena memang jangan sampai ada yang punya penyakit menular kemudian sekolah disini, bukan ditolak, tetapi menurut Presiden Prabowo agar diberikan perawatan. Kerjasama dengan Kementerian Kesehatan,” katanya.
Lebih lanjut, Agus Zainal mengatakan bahwa tenaga pendidik di Sekolah Rakyat adalah guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).
"Guru-gurunya rencananya adalah penugasan guru ASN. Kemudian kalau tidak cukup di suatu daerah, maka ada penugasan guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang penuh waktu, juga kemudian paruh waktu dan terakhir seleksi dari lulusan PPG (Pendidikan Profesi Guru) calon guru," ujarnya.
Pemerintah, kata Agus, berencana membangun Sekolah Rakyat di setiap kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Sebanyak 63 titik Sekolah Rakyat akan mulai beroperasi pada Juli 2025.
Adapun 63 titik itu tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatera (13 titik), Jawa (34 titik), Kalimantan (2 titik), Sulawesi (8 titik), Bali dan Nusa Tenggara Timur (3 titik), Maluku (2 titik), dan Papua (1 titik).
Agus mengatakan bahwa berdasarkan arahan dari Presiden Prabowo Subianto, sebanyak 200 Sekolah Rakyat akan dibangun secara bertahap.
Sebanyak 100 diantaranya didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan dukungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), sementara 100 sekolah lainnya merupakan hasil kolaborasi dan dukungan dari pihak swasta yang dikoordinasi oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (Kemen BUMN).
| Putus Sekolah Sejak Kelas 4, Idris Kembali Mengeja Huruf di Sekolah Rakyat Tana Toraja |
|
|---|
| Sekolah Rakyat Terintegrasi 62 Tana Toraja Tampung 73 Siswa, Terapkan Sistem Asrama dan Matrikulasi |
|
|---|
| DPRD Tana Toraja Terima Aduan dari Ahli Waris Pemilik Lahan Sekolah Rakyat di Mengkendek |
|
|---|
| Pemprov Sulsel Bangun 9 Sekolah Rakyat, Tana Toraja Berlokasi di Kawasan Hutan Mapongka |
|
|---|
| Pendaftaran PPPK Tenaga Pendidikan Sekolah Rakyat Masih Terbuka, SR Toraja Berlokasi di Mengkendek |
|
|---|