Paparan Gadget Berlebihan Bisa Picu Autisme Virtual pada Anak
Amanda menegaskan bahwa autisme virtual berbeda dengan gangguan spektrum autisme (GSA).
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/ilustrasi-gadget-anak-1642025.jpg)
Amanda menegaskan bahwa autisme virtual berbeda dengan gangguan spektrum autisme (GSA).
Pada GSA, gejala tetap muncul meskipun anak tidak terpapar gadget.
Gangguan tersebut umumnya disebabkan oleh faktor genetik yang kuat.
Baca juga: Polisi Buru Dokter Cabul di Garut yang Kabur Usai Videonya Viral
"Perilaku autistik masih akan tetap ada walau gawai itu sebagai faktor lingkungan, bukan sebagai modifier," katanya.
Ia juga menyoroti bahwa anak dengan autisme biasanya memiliki ketertarikan pada aktivitas berulang, yang kerap ditemui dalam konten digital.
Lebih lanjut, Amanda menyebut bahwa anak yang memiliki saudara kandung dengan autisme berisiko sembilan kali lebih tinggi mengalami kondisi serupa, menandakan kuatnya peran faktor keturunan.
Dokter lulusan Universitas Indonesia ini menekankan pentingnya pengawasan orang tua dalam penggunaan gadget oleh anak, terutama pada usia dini yang merupakan masa krusial bagi perkembangan sosial dan emosional.
(*)
| Tips Memilih Powerbank alias Bank Daya agar Perangkat Aman dan Awet |
|
|---|
| Spesifikasi dan Harga Poco M7 Pro 5G yang Bakal Meluncur di Indonesia 7 April 2025 |
|
|---|
| Lakukan Pengawasan di Tana Toraja, Yariana Somalinggi: Jagai Anak'ta |
|
|---|
| Dukung Pembatasan Medsos untuk Anak, Menkes Budi Gunadi: Ganggu Kesehatan Mental |
|
|---|
| Segera Diluncurkan, Layar iPhone 16 Lebih Besar dari iPhone 15 |
|
|---|