Sabtu, 9 Mei 2026

Imlek 2025

Benarkah Ungkapan 'Harus Hujan saat Imlek'? Ini Penjelasannya

Dalam kalender lunar Tiongkok, yang dikenal sebagai kalender pertanian, awal musim hujan menjadi penanda dimulainya siklus pertanian baru, termasuk...

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Benarkah Ungkapan 'Harus Hujan saat Imlek'? Ini Penjelasannya
IST
ILUSTRASI IMLEK - Suasana pawai pesta rakyat Cap Go Meh Street Festival di Jalan Suryakencana, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/03/2018) silam. 

TRIBUNTORAJA.COM – Hujan yang sering turun saat perayaan Tahun Baru Imlek bukanlah sekadar kebetulan.

Fenomena ini dapat dijelaskan secara ilmiah serta memiliki makna tersendiri dalam budaya masyarakat Tionghoa.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), perayaan Imlek yang berlangsung pada akhir Januari hingga awal Februari bertepatan dengan puncak musim hujan di Indonesia.

 

 

Seperti dilansir Kompas.com, Rabu (29/1/2025), pada periode tersebut curah hujan memang meningkat di berbagai daerah.

Selain itu, faktor meteorologis lainnya adalah pengaruh angin muson timur laut yang bertiup dari Laut Cina Selatan.

The Strait Times mencatat bahwa angin ini dapat menyebabkan penurunan suhu harian selama perayaan Imlek, dengan kisaran temperatur antara 22 hingga 30 derajat Celsius.

 

Baca juga: Polda Sulsel Pastikan Keamanan Perayaan Imlek 2025 di Makassar

 

Pengaruh Tradisi Agraris dan Mitos Keberuntungan

Di luar penjelasan ilmiah, masyarakat Tionghoa juga memiliki kepercayaan bahwa hujan yang turun sebelum Cap Go Meh adalah pertanda baik.

Kartika Ajeng Dewanty, dalam penelitiannya tahun 2017 berjudul "Fungsi Budaya Cap Go Meh sebagai Tradisi Masyarakat Tionghoa Perspektif Antropologi Sastra", menyebutkan bahwa penganut Kong Hu Cu percaya hujan menjelang perayaan tersebut membawa keberkahan dan rezeki.

Kepercayaan ini berakar dari tradisi agraris masyarakat Tionghoa zaman dahulu.

 

Baca juga: Berikut Ucapan Imlek 2025 Bahasa Inggris dan Mandarin dengan Terjemahan

 

Asia for Educator mencatat bahwa masyarakat Tionghoa tradisional yang hidup dari pertanian menggunakan kalender lunar sebagai panduan bercocok tanam.

Kalender ini, yang juga menentukan tanggal perayaan Imlek, umumnya bertepatan dengan awal musim hujan.

"Masyarakat Tionghoa pada masa lalu sangat bergantung pada siklus pertanian untuk kehidupan mereka. Mereka tinggal di daerah pedesaan dan hidup dari hasil pertanian," demikian kutipan laporan Asia for Educator.

 

Baca juga: PSMTI Gelar Perayaan Imlek 15 Februari 2025, Menag Siap Hadir

 

Dalam kalender lunar Tiongkok, yang dikenal sebagai kalender pertanian, awal musim hujan menjadi penanda dimulainya siklus pertanian baru, termasuk membajak tanah, menanam benih, hingga masa panen.

Dengan demikian, hujan saat Imlek tidak hanya bisa dijelaskan secara ilmiah sebagai fenomena alam, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai pembawa keberuntungan dan harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Tionghoa.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved