Polisi di Bogor Bunuh Ibunya Pakai Tabung Gas Pernah Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

Dia mengatakan saat peristiwa pembunuhan yang terjadi pada Minggu (1/12) sekira pukul 21.30 WIB

Editor: Imam Wahyudi
tribunnews
Nikson Nababan, polisi yang membunuh ibunya di Bogor ditangkap oleh Propam Polda Metro Jaya. 

TRIBUNTORAJA.COM - Rolling door atau pintu besi berwarna hijau yang terpasang di sebuah ruko bertembok kuning di pinggir Jalan Raya Narogong RT 2 RW 4, Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tertutup rapat pada Selasa (3/12/24) siang. 

Tak seperti biasanya, ruko tersebut tutup setelah terjadinya peristiwa berdarah saat seorang anggota Polres Metro Bekasi, Aipda Nikson Pangaribuan (45) membunuh ibu kandungnya sendiri bernama Herlina Sianipar (61). 

Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Seperti orang yang gelap mata, Aipda Nikson tega memukul bagian kepala orang yang melahirkan dirinya itu dengan tabung gas 3 kilogram atau biasa disebut tabung melon sebanyak tiga kali.

Di samping rolling door ruko itu terlihat ada sebuah jalan kecil yang di bagian depannya terpasang pintu besi dengan posisi tertutup di rumah yang seperti tak berpenghuni itu. Terlihat pula di jalan kecil itu sebuah pintu yang merupakan akses masuk ke dalam ruko yang bergabung dengan rumah tinggal korban.

Namun dari pantauan Tribunnews siang itu, tak ada garis polisi yang terpasang di bagian depan bangunan ruko yang menjadi saksi bisu kasus pembunuhan tersebut. Di sela-sela itu, Tribunnews bertemu dengan keluarga korban yang saat itu baru saja pulang menguburkan jasad Herlina di TPU Cipenjo, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Tribunnews pun berkesempatan masuk ke bagian dalam rumah melalui jalan kecil tadi. Dari pintu samping, rumah itu berbentuk letter L ke sebelah kiri yang disekat dengan pintu yang menuju bagian ruko. Di pintu tersebut baru terlibat ada garis polisi yang melintang.

Kakak ipar korban, Rony Saud Pangaribuan (75), bercerita jika jenazah Herlina dibawa pulang oleh keluarga dari Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur pada Senin (2/12) kemarin. Keluarga pun berkumpul di rumah duka setelah jenazah korban dikebumikan.

Dia mengatakan saat peristiwa pembunuhan yang terjadi pada Minggu (1/12) sekira pukul 21.30 WIB, di rumah tersebut memang hanya ada Aipda Nikson dan ibundanya saja. Sementara, dua adik laki-laki Aipda Nikson bernama Beni dan Mario yang masih tinggal satu atap tak berada di rumah kala itu. Adapun adik perempuannya bernama Reni sudah tinggal bersama suaminya di Bandung, Jawa Barat setelah menikah.

Hingga akhirnya, seorang saksi yang ingin berbelanja di warung milik korban itu melihat pertikaian antara Aipda Nikson dan Herlina. Korban didorong hingga terjatuh sampai akhirnya dihantam tabung gas ke kepalanya.

Aipda Nikson kala itu sempat melarikan diri ke arah Rumah Sakit Hermina Cileungsi. Di sana, dia menghentikan mobil pikap pengangkut gas yang dia bawa di tengah jalan. Lalu, dia membuat keributan di sebuah kedai kopi pada Senin (2/12) sekira pukul 01.00 WIB hingga akhirnya ditangkap.

Sementara sang ibu yang menjadi korban keganasan Aipda Nikson itu sempat dilarikan ke rumah sakit. Namun sayang nyawanya tak tertolong.

Gangguan Jiwa 

Rony pun mengungkap jika apa yang keponakannya perbuat tersebut bukan keinginan dari dirinya. Melainkan, karena penyakit yang sering kumat setelah dinyatakan positif mengalami gangguan jiwa. "Si Nikson itu adalah dinyatakan kemarin itu sudah beberapa bulan yang lalu, dia itu dinyatakan positif gangguan jiwa," kata Rony saat ditemui di depan ruko yang merupakan lokasi kejadian pembunuhan.

Aipda Nikson disebut oleh adiknya tak rutin meminum obat selama masa perawatan dan rehabilitasi atas penyakitnya tersebut. Sehingga kerap kali penyakitnya itu kumat. Rony bercerita Aipda Nikson pernah marah-marah tak terkendali sampai memukul ubin dan meja di rumahnya sekitar dua minggu yang lalu.

Penyakit gangguan kejiwaan yang diderita Aipda Nikson bukan menyerangnya baru-baru ini. Keluarga mengetahui jika pelaku mengalami penyakit itu kurang lebih sudah sejak tiga tahun lalu. Bahkan seingat Rony, keponakannya itu juga sempat dilakukan perawatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Soeharto Heerdjan atau yang lebih dikenal RSJ Grogol, Jakarta Barat selama beberapa bulan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved