Catatan Euro 2024

Roma Tak Dibangun Dalam Sehari

Sangat sedikit penggemar yang tiba di bandara, kontras sekali dengan suasana pada tiga tahun lalu setelah kemenangan Italia melawan Inggris di Stadion

Editor: Imam Wahyudi
ist
Willy Kumurur (kemeja hitam) 

Oleh: Willy Kumurur (Penikmat Bola)

MANUSIA adalah makhluk yang berkembang, berubah-ubah dan tidak statis.

Itulah pendapat filsuf Italia, Giovanni Pico della Mirandola, yang mengemukakan pandangan Renaissans bahwa manusia harus merancang dan mengubah kodratnya sendiri melalui tindakan moral-spiritual.

Pico menekankan bahwa manusia sanggup mengatasi semua hal; dan itulah yang dilakukan oleh Marcello Lippi yang memimpin pasukan Italia memasuki medan pertempuran Piala Dunia 2006 di Jerman.

Ia menata pasukannya dari “kehancuran” karena Il Nerazzurri harus rela tersingkir di babak 16 besar oleh tuan rumah Korea Selatan di Piala Dunia 2002.

Di Piala Dunia 2006 mereka melaju ke final, 9 Juli 2006, dan Italia tampil sebagai juara setelah mengalahkan Prancis dalam adu penalti.

Momen bersejarah itu terjadi di Olympiastadion di Berlin, tempat keramat dan bersejarah bagi Italia.

Ironisnya, Olympiastadion, Berlin ini menjadi “kuburan” tempat di mana Swiss membenamkan Italia sekaligus menyingkirkan Gli Azzuri dari kancah persaingan di Euro 2024. Mammamia.

Segera setelah kalah dari Swiss, Tim Italia pulang kampung.

Pesawat Airbus A330-200 ITA Airways yang membawa Tim Italia menyentuh landasan pacu bandar udara internasional Malpensa, Milan, Italia pada pukul 18:30 waktu setempat, sehari setelah Squadra Azzura dihajar oleh Swiss di babak 16 besar Euro 2024 di Olympiastadion, Berlin.

Padahal, Italia adalah juara bertahan Piala Eropa.

Berangkat dari bandara Dortmund, mereka transit di Milan untuk kemudian bertolak ke Roma.

Bandara Milan Malpensa, bandara internasional terbesar di Italia bagian utara, menjadi saksi betapa kepulangan tim nasional itu jauh dari keramaian dengan nyanyian dan kibaran bendera atau lagu kebangsaan Il Canto degliItaliani.

Sangat sedikit penggemar yang tiba di bandara, kontras sekali dengan suasana pada tiga tahun lalu setelah kemenangan Italia melawan Inggris di Stadion Wembley.

Tatkala tiba di Roma, hampir tidak ada orang yang datang dan menyapa mereka.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved