Minggu, 19 April 2026

Singapore Airlines Turbulensi, Satu Penumpang Tewas

Menteri Transportasi Singapura Chee Hong Tat mengatakan pemerintah akan memberikan bantuan kepada penumpang dan keluarganya.

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Singapore Airlines Turbulensi, Satu Penumpang Tewas
tribunnews
Singapore Airlines 

TRIBUNTORAJA.COM - Pesawat Boeing 777 300ER yang dioperasikan Singapore Airlines mengalami turbulensi dalam penerbangan dari London menuju Singapura.

Satu penumpang dilaporkan tewas dalam insiden ini.

Penerbangan bernomor SQ321 tersebut kemudian mendarat darurat di Bandara Suvarnabhumi Bangkok (BKK) dan mendarat pukul 15.45 waktu Bangkok atau pukul 08.45 GMT.

Saat mengalami turbulensi, pilot mengirim kode 7700 sebagai kode darurat umum. 

Menurut laporan BBC, selain penumpang tewas, insiden turbulensi ini juga menyebabkan sejumlah penumpang terluka.

Penerbangan SQ 321 membawa total 211 penumpang dan 18 awak.

“Singapore Airlines menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum.” tulis laporan tersebut.

Singapore Airlines menyatakan, terkait insiden ini pihaknya bekerja sama dengan pihak berwenang Thailand untuk memberikan bantuan medis kepada penumpang, dan mengirimkan tim ke Bangkok untuk memberikan bantuan tambahan yang diperlukan.

Pihak berwenang Thailand telah mengirim ambulans dan tim darurat ke Bandara Suvarnabhumi.

Menteri Transportasi Singapura Chee Hong Tat mengatakan pemerintah akan memberikan bantuan kepada penumpang dan keluarganya.

“Saya sangat sedih mengetahui kejadian di dalam pesawat Singapore Airlines SQ321 dari London Heathrow ke Singapura,” tulisnya dalam pernyataan di Facebook.

Pakar penerbangan umum, John Strickland, kepada BBC mengatakan cedera akibat turbulensi parah relatif jarang terjadi pada jutaan penerbangan yang dioperasikan.

Namun, turbulensi parah bisa menjadi dramatis dan menyebabkan cedera parah atau, sayangnya, dalam kasus ini kematian. 

Awak penerbangan mempunyai sumber daya untuk memprediksi turbulensi, meskipun beberapa wilayah di dunia lebih rentan terhadapnya.

"Mereka juga dilatih tentang cara merespons turbulensi," kata Strickland.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved