Kamis, 30 April 2026

Sungai Sadan Meluap

Dampak Sungai Sa'dan Meluap, Tanah Ambles di Kapala Pitu Toraja Utara

Longsor di Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan yang merenggut 20 korban jiwa terjadi di dua lokasi dengan selang waktu sekitar 3 jam. 

Tayang:
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Dampak Sungai Sa'dan Meluap, Tanah Ambles di Kapala Pitu Toraja Utara
ist
Tanah ambles di wilayah Ke'pe, Kecamatan Kapala Pitu, Toraja Utara, pada Selasa (23/4/2024). 

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Hujan deras yang mengguyur Toraja Utara pada Senin Senin (22/4/2024), menyebabkan air Sungai Sa'dan meluap.

Puluhan rumah di bantaran sungai terendam pada Senin malam.

Pemukiman terendam mulai dari poros Palawa-Sadan, poros Malango, hingga jembatan Alang-alang, Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Banjir baru surut pada Selasa (23/4/2024) dinihari.

Hujan yang terjadi pada Senin, juga menyebabkan tanah ambles di wilayah Ke'pe, Kecamatan Kapala Pitu, Toraja Utara, pada Selasa (23/4/2024).

Kecamatan Kapala Pitu berjarak 15 KM dari pusat Kota Rantepao.

Kecamatan Kapala Pitu salah satu kecamatan di wilayah pegunungan di Toraja Utara.

Jefry Lumantang (25), warga Ke'pe, mengatakan sebuah lumbung nyaris ambruk  akibat tanah ambles.

Ia mengatakan bahwa hujan sejak Senin (22/4/2024) sore hingga Selasa (23/4/2024) pagi, menjadi salah satu faktor tanah amblas.

"Hujan memang cukup intens sejak sore kemarin, ini lagi mulai mendung, semoga kalaupun hujan tidak membuat hingga terjadi longsor," tuturnya.

Longsor di Makale

Pada 13 April lalu, warga Toraja Raya, meliputi Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, Provinsi Sulsel, berduka.

Sebanyak 16 warga Kampung Palangka, Kelurahan Manggau, Kecamatan Makale dan 4 warga Desa Randan Batu, Kecamatan Makale Selatan, Tana Toraja, meninggal tertimbun longsor yang terjadi pada akhir pekan lalu.

Berikut 6 fakta longsor Tana Toraja.

1. Terjadi di 2 Lokasi Pada Waktu Hampir Bersamaan

Longsor di Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan yang merenggut 20 korban jiwa terjadi di dua lokasi dengan selang waktu sekitar 3 jam. 

Longsor pertama terjadi di Kampung Palangka, Kelurahan Manggau, Kecamatan Makale pada Sabtu (13/4/24) pukul 23.30 Wita.

Longsor menimbun sebuah rumah yang di dalamnya ada 18 orang.

16 meninggal dan dua selamat.

18 orang korban ini, tidak semuanya penghuni rumah.

Ada juga keluarga dan tetangga yang kebetulan mengunjungi rumah tersebut untuk menghadiri undangan pelepasan salah satu anak dari pemilik rumah yang akan kembali ke perantauannya di Kalimantan.

Longsor kedua terjadi di Desa Randan Batu, Kecamatan Makale Selatan pada Minggu (14/4/24) sekitar pukul 03.00 Wita.

Longsor di Randan Batu menerjang sebuah rumah yang di dalamnya ada 6 orang.

4 meninggal dua selamat.

Total korban meninggal dari dua lokasi ini 20 orang.

2. Pencarian Korban Dilakukan 3 Hari, Reno Ditemukan Tanpa Kepala 

Pascalongsor, warga langsung melakukan pencarian terhadap para korban.

Di Kampung Palangka, Kelurahan Manggau, warga langsung menemukan 3 korban. Dua selamat, satu meninggal.

Pagi harinya, Minggu (14/4/24), tim SAR gabungan mulai berdatangan untuk melakukan pencarian.

Hingga Minggu malam, warga dan tim SAR berhasil menemukan 14 korban. 12 meninggal 2 selamat.

Salah satu korban meninggal yang ditemukan, Reno, bocah 2 tahun, ditemukan tanpa kepala.

Pada Senin (15/4/24) sore, tim SAR kembali menemukan dua korban dalam keadaan meninggal, yakni Sopia (23) dan putrinya Gea (3).

Pada Selasa (16/4/24) pagi, tim SAR berhasil menemukan kepala Reno.

Setelah menemukan kepala Reno, operasi pencarian ditutup.

Untuk longsor di Desa Randan Batu, warga dan tim SAR berhasil menemukan ke-6 korban beberapa jam setelah kejadian atau pada MInggu (14/4/24).

3. Ratusan Orang Mengungsi, 70 Diantaranya Anak-anak

Longsor yang menghancurkan dua rumah di Palangka dan Randan Batu, juga membuat puluhan rumah mengalami kerusakan.

Sebagian besar mengalami retak pada dinding rumah.

Kondisi ini membuat puluhan kepala keluarga dengan ratusan jiwa memilih mengungsi.

Selain khawatir dengan kondisi rumahnya, mereka juga takut akan adanya longsor susulan.

Apalagi, kampung mereka masih terus diguyur hujan.

Dari ratusan warga yang mengungsi, 70 diantaranya anak-anak dan saat ini mengikuti trauma healing yang dilaksanakan Kementerian Sosial.

Pekerja Sosial Kementerian Sosial, Rano Saputra, mengatakan akan dilakukan assessment berkelanjutan untuk anak-anak yang perlu penanganan lebih lanjut untuk pemulihan kondisi psikososial mereka.

“Anak-anak yang perlu penanganan lebih lanjut, pemulihan kondisi psikososialnya, akan lakukan rujukan ke Kementerian Sosial melalui UPT mereka, namanya sentra-sentra,” tutup Rano.

Menurutnya, ada dua anak perlu penanganan khusus, sebab mereka tidak mau kembali ke rumahnya akibat trauma.

4. Dikunjungi Mensos, Tiap Ahli Waris Dapat Santunan Rp15 Juta

Tiga hari setelah longsor, Rabu (17/4/24), Menteri Sosial (Mensos), Tri Rismaharini, mengunjungi lokasi longsor dan menemui pengungsi di posko pengungsian Kampung Palangka, Kelurahan Manggau, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Rabu (17/4/2024).

Risma ke Toraja menggunakan helikopter dan mendarat di Bandara Buntu Kunyi, pukul 10.30 Wita.

Dalam kunjungannya, Risma menyerahkan santunan kepada ahli waris korban.

Ahli waris korban meninggal masing-masing mendapat santunan Rp15 juta, sedangkan korban luka menerima santunan Rp5 juta yang diberikan kepada dua orang.

 5. Warga Sekitar Lokasi Longsor Akan Direlokasi

 Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung mengatakan, warga yang tinggal di sekitar lokasi longsor akan direlokasi ke tempat yang aman.

Relokasi bukan hanya bagi warga sekitar longsor Kampung Palangka dan Desa Randan Batu, namun juga di lokasi-lokasi lain yang rawan terjadi longsor.

6. Bencana Alam dengan Korban Terbanyak dalam 40 Tahun Terakhir

Longsor yang merenggut 20 nyawa di Kampung Palangka dan Desa Randan Batu, merupakan bencana alam dengan jumlah korban terbesar yang terjadi Tana Toraja.

"Setidaknya dalam 30-40 tahun terakhir, baru kali ini terjadi bencana alam yang merenggut banyak korban jiwa," ujar Bupati Tana Toraja, Theofilus Alloreng.(*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved