Jumat, 8 Mei 2026

Kualitas Udara Jakarta Masih Jadi yang TERBURUK Sedunia Hari Ini 20 Agustus 2023

Dalam menyikap hal tersebut, perlu adanya riset yang lebih mendalam terkait dengan kandungan apa yang menjadi dominasi dalam pencemaran udara.

Tayang:
Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Kualitas Udara Jakarta Masih Jadi yang TERBURUK Sedunia Hari Ini 20 Agustus 2023
tribunnews
Ilustrasi udara Jakarta. 

TRIBUNTORAJA.COM - Pada Minggu (20/8/2023) pagi, kualitas udara Jakarta jadi yang terburuk didunia menurut situs IQAir, artinya, paling berpolusi dan tidak sehat.

Pada pukul 09.09, Jakarta indeks kualitas udara di DKI Jakarta tercatat pada angka 155, menjadi yang paling buruk dibandingkan kota-kota besar lain di seluruh dunia.

Per pukul 07.41 WIB justru lebih buruk dengan kualitas indeks udara 161, yang menunjukkan bahwa udara Jakarta paling tercemar.

 

 

Sementara itu, diurutan kedua ada Doha, Qatar dengan indeks udara 154 dan urutan ketiga, Beijing China dengan indeks kualitas udara 151.

Terkiat hal ini, situs IQAir merekomendasikan masyarakat untuk mengenakan masker, menghidupkan penyaring udara, menutup jendela, dan hindari aktivitas luar ruangan.

Pencemaran udara di Jakarta beberapa pekan terakhir semakin menjadi sorotan.

Bahkan, meski hari ini sebagian besar warga ibu kota tidak berangkat bekerja, kualitas udara tetap buruk.

 

Baca juga: Sekjen PDIP: Kualitas Udara Jakarta Buruk Karena Lama Tak Diurus

 

Penyebab Polusi Jakarta

Kepala Pusat Studi Lingkungan Dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Sukarsono, M.Si menjelaskan bahwa kandungan yang dapat mencemari kualitas udara, di antaranya logam berat, karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NOx), ozon (O3), senyawa organik volatil (VOC), dan sulfur dioksida (SO2).

Tidak hanya dari asap kendaraan bermotor, Sukarsono menyebut pabrik-pabrik yang dalam proses produksinya menghasilkan gas dari cerobong-cerobong asap juga berpotensi menyumbang polutan.

Ditambah dengan kondisi cuaca pada musim kemarau dengan intensitas curah hujan rendah. Hal itu menurut Sukarsono membuat polusi yang ada di udara tetap terkumpul dan bertahan di udara.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved