Selasa, 28 April 2026

Pilpres 2024

Anies Baswedan: Kerusakan Akibat Mafia Ibarat Katak Mati Perlahan dalam Panci

Mantan menteri pendidikan itu juga mengingatkan soal reformasi yang terjadi 25 tahun lalu. Kala itu, kata Anies, semua orang berkomitmen...

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Anies Baswedan: Kerusakan Akibat Mafia Ibarat Katak Mati Perlahan dalam Panci
Tangkapan Layar Kompas TV
Bakal calon presiden (bacapres) dari koalisi perubahan, Anies Baswedan saat menyambangi Kantor DPP NasDem di Nasdem Tower, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (17/5/2023) malam lalu. 

TRIBUNTORAJA.COM - Mantan Gubernur DKI Jakarta, anies Baswedan, menyebut mafia dapat merusak Indonesia secara bertahap.

Dia mengilustrasikan hal itu dengan katak yang mati perlahan di tengah air dalam panci yang pelan-pelan tambah panas.

Hal tersebut disampaikan bakal calon presiden (bacapres) dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan itu saat berpidato di acara Temu Kebangsaan Relawan di Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Minggu (21/5/2023) dikutip dari tayangan Kompas TV.

 

 

"Proses terjadinya itu pelan-pelan, proses penyimpangannya itu pelan-pelan. Bila pemimpin-pemimpin di republik ini tidak sensitif pada persoalan ini, maka persoalan (mafia) ini akan secara bertahap merusak Indonesia," kata Anies.

"Saya beri ilustrasi, katak dimasukkan ke dalam panci yang airnya dingin, kemudian kompor dinyalakan pelan-pelan. Air yang asalnya dingin lama-lama menjadi panas dan mendidih."

Sehingga air panas yang mendidih itu, kata dia, akan membuat katak mati.

 

Baca juga: Subsidi Mobil Listrik, Anies Baswedan: Yang Diperbanyak itu Kendaraan Umum, Bukan Pribadi

 

"Itu jalannya pelan-pelan. Kalau katak dilemparkan ke panci yang airnya mendidih, dia akan langsung lompat. Akan tetapi kalau dipanaskan pelan-pelan, dia mati mendidih," tegasnya.

Sehingga jika mafia tidak segera dibereskan, kata Anies, Indonesia akan rusak perlahan seperti katak tersebut.

Melihat hal itu, dia pun mengajak bangsa Indonesia segera menyadari akan pertumbuhan mafia di tanah air saat ini. Sebab jika tidak, sebutnya, Indonesia akan dihabisi para mafia tersebut.

 

Baca juga: Bicara di Hadapan Ribuan Relawan ANIES, Anies Baswedan MInta Pemerintah Netral di Pemilu 2024

 

"Saatnya kita menyadari bahwa ini adalah problematika yang harus kita hadapi sama-sama, setuju?" ucap Anies kepada para relawan yang hadir.

"Setuju," timpal para relawan.

Mantan menteri pendidikan itu juga mengingatkan soal reformasi yang terjadi 25 tahun lalu. Kala itu, kata Anies, semua orang berkomitmen memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

 

Baca juga: Anies Baswedan Siap Teruskan Pembangunan IKN

 

“25 tahun yang lalu kita berkomitmen memberantas KKN, sekarang kita berkomitmen untuk memberantas mafia-mafia yang ada di republik ini,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Anies menyoroti para mafia yang berkeliaran di berbagai lini masyarakat.

Mafia yang dimaksud mulai dari mafia pemilu hingga proyek pemerintah seperti dalam kasus korupsi pembangunan menara seluler atau base transceiver station (BTS) yang menjerat Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate.

 

Baca juga: Anies Baswedan Cerita Pembangunan JIS di Garut, Janji Jalankan Keadilan Sosial Seluruh Warga Negara

 

Dia pun menegaskan, para mafia tersebut sudah seharusnya dibereskan. Pasalnya, Indonesia tidak akan maju jika mereka masih merajalela.

"Mafia-mafia ini berderet ada mafia bagian tanah, ada parkir, mafia kesehatan, mafia pemilu, mafia bansos bahkan mafia proyek pemerintah, ya termasuk mafia BTS itu. Karena itu, seluruh mafia ini harus kita bereskan," kata Anies.

"Republik ini tidak akan maju jika kita membiarkan mafia-mafia itu merajalela di negeri ini, termasuk proyek pemerintah."

Terkait mafia BTS, Anies mengaku sependapat dengan Ketua Umum NasDem Surya Paloh yang meminta kasus yang menjerat Johnny yang juga kadernya, segera dituntaskan.

"Saya sependapat dengan Ketua NasDem Pak Surya Paloh, tuntaskan penyelidikannya," ucapnya.

"Semua yang terlibat harus diperiksa, dorong transparansi, jangan ada pihak yang dibiarkan melenggang tidak dimintai pertanggungjawabannya."

(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved