Setsubun, Tradisi Unik Masyarakat Sambut Musim Semi di Jepang
Setsubun biasanya dirayakan pada tanggal 3 Februari, untuk menandai hari pertama musim semi pada tanggal 4 Februari.
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/festival-setsubun-musim-semi-jepang-2332023.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Di Jepang, salah satu tradisi populer untuk menyambut musim semi adalah Setsubun.
Tradisi ini biasa dimulai sejak awal Februari.
Setsubun biasanya dirayakan pada tanggal 3 Februari, untuk menandai hari pertama musim semi pada tanggal 4 Februari.
Dikutip dari Ohayo Jepang, tradisi Setsubun dimulai sudah ratusan abad lalu, tepatnya pada periode Muromachi (1337-1573).
Biasanya saat tradisi Setsubun, para orang tua mengenakan kostum raksasa atau semacam topeng untuk menakut-nakuti, sementara anak-anak melempar kacang.
'Ritual' ini dilakukan sebagai simbol untuk mengusir roh jahat dari rumah, dan membawa masuk kesuksesan untuk tahun mendatang.
Baca juga: Metode Bersih-bersih Ala Marie Kondo, Populer di Jepang Hingga Amerika Serikat
Melempar kacang dipercaya dapat mengusir roh jahat, karena kacang melambangkan vitalitas dan kata 'mame' terdengar seperti 'mata setan' dalam bahasa Jepang.
Dikutip dari Japan Cheapo, Setsubun dirayakan sekitar tahun baru kalender Lunar, yang menurut adat Tionghoa adalah saat ketika roh dapat dengan mudah memasuki dunia manusia dan membawa kesialan.
Melempar kacang untuk menakut-nakuti setan dan makan masakan simbolis, penting untuk mengundang keberuntungan, memberikan kesempatan untuk melupakan hal buruk yang terjadi tahun sebelumnya dan menantikan awal yang bersih.
Baca juga: Warna-warni Tradisi Jelang Ramadan di Indonesia: Dari Mandi Jeruk Hingga Makan Bersama