Ramadan 2023
Ini Sejarah Permulaan Masuknya Islam di Tana Toraja, Ternyata Ada Dua Versi
Berdasarkan data demografi penduduk di Tana Toraja pada tahun 2022, sebanyak 12,19 persen dari 270.984 jiwa penduduknya memeluk agama Islam.
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Donny Yosua
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/adzan-masjid-jami-madandan-rantetayo-tana-toraja-1332023.jpg)
Laporan reporter Tribun Toraja, Muhammad Rifki.
TRIBUNTORAJA.COM, TORAJA - Menurut sejarah, Islam pertama kali masuk di wilayah Tana Toraja diawali dari sebuah pernikahan pria angkatan perang asal Palopo, Opu Demmakalu' dan seorang wanita mahsyur Madandan, Ne'Rangga.
Pernikahan mereka berlangsung sekitar tahun 1857 di Lembang Madandan, Kecamatan Rantetayo, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulawesi Selatan.
Berawal dari kedatangan Opu Demmakalu' di Madandan dengan maksud menemui Ampu Lembang dan Palullu' yang tengah berperang melawan Pong Tamba' dibantu oleh Lullu' yang berasal dari Rembon.
Ampu Lembang pun kemudian menikahkan saudarinya Ne'Rangga dengan Opu Demmakalu' setelah peperangan usai sebagai bentuk ikatan tali persaudaraan antar dua daerah.
Pernikahan dimulai dengan mengislamkan Ne'Rangga lalu diikuti oleh pengikut-pengikutnya.
Pernikahan tersebut kemudian menjadi pencetus pembangunan masjid tertua di Tana Toraja, yakni Masjid Jami Madandan pada tahun 1858.
Baca juga: Masjid Jami Madandan, Bukti Sejarah Masuknya Agama Islam di Tana Toraja
Pengurus Masjid Jami Madandan, Nasrullah Sapangallo mengatakan, berbeda dengan budaya Bugis-Makassar yang memiliki aksara Lontara, sejarah di Tana Toraja disampaikan melalaui budaya tutur.
“Saya adalah keturunan Tongkonan Buntu Madandan, lahir dan besar di Tana Toraja. Jika orang Bugis-Makassar mengabadikan sejarah mereka melalui aksara Lontara, kami menjaganya melalui budaya tutur mulut ke mulut masyarakat,” ujarnya kepada Tribun Toraja, Minggu (12/3/2023).
Lebih lanjut, Nasrullah menambahkan, untuk sejarah masuknya Islam di Tana Toraja sendiri memiliki dua versi.
Baca juga: Satu Abad Nahdlatul Ulama: Pendiri, Lahir, dan Sejarah NU