Ferdy Sambo - Putri Candrawathi: Akhir Kisah Cinta yang Janggal
Kisah cinta ini terkuak di muka persidangan. Putri mengaku sangat mencintai Sambo dan Sambo pun setengah mati mencintai Putri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/ferdy-sambo-putri-candrawathi-1012023.jpg)
Kisah cinta ini terkuak di muka persidangan. Putri mengaku sangat mencintai Sambo dan Sambo pun setengah mati mencintai Putri.
Rasa cinta yang besar inilah yang menjadi dorongan kenapa ia; seorang perwira tinggi polisi berpangkat Inspektur Jenderal, seorang yang menduduki jabatan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri, sampai harus memerintahkan pembunuhan terhadap Nofiansyah Yosua Hutabarat, polisi berpangkat rendah yang merupakan ajudannya sendiri.
Menurut Sambo, emosinya menggelegak tatkala Putri mengakui dirinya dilecehkan secara seksual oleh Yosua.
Sampai di sini, ketidaklogisan kenapa seorang Irjen harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan seorang Brigadir, berubah menjadi logis. Cinta bisa membutakan siapa saja.
Dua kisah dari Kerajaan Inggris bisa dikedepankan: Edward VIII melepas gelar kebangsawanannya (dan mahkotanya sebagai raja) demi cintanya kepada Wallis Simpson, dan lebih delapan dekade berselang, Pangeran Harry melakukan hal yang kurang lebih sama.
Dalam hal Sambo, cinta ini telah berkaitpaut dengan harga diri pula. Seorang Brigadir, ajudannya sendiri, berani berbuat tidak senonoh kepada istrinya, kepada Putri, perempuan yang dicintainya setengah mati.
Sedikit agak mirip dengan legenda Raja Arthur dan Lancelot. Raja Arthur murka setelah mendengar selentingan bahwa Lancelot, orang kepercayaannya, yang telah ia anggap sebagai anaknya, bermain cinta-cintaan dengan istrinya yang rupawan, Lady Guinevere.
Namun persidangan kemudian ternyata tidak mengarah ke cinta tiga segi Arthur, Guinevere, dan Lancelot, melainkan justru lebih mengarah ke kisah yang dipapar dalam kitab suci dua agama besar, Islam dan Kristen. Kisah perihal Yusuf, atawa Yosef, nabi yang tampan.
Putri Candrawathi mengaku dilecehkan secara seksual oleh Brigadir Yosua, tapi majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan yang menyidangkan perkara ini tidak menemukan kebenarannya.
Para hakim justru berpendapat bahwa Putri tidak dilecehkan oleh Yosua. Tidak pernah ada percobaan pemerkosaan. Sebaliknya, hakim bilang, Putri sakit hati terhadap sikap Yosua, lalu melancarkan fitnah.
Sedikit banyak mirip Yusuf yang mendapat fitnah dari Zulaikha (dalam Alquran, sementara dalam Injil disebut sebagai ‘Istri Potifar’).
Namun berbeda dari Potifar, atau Qithfir bin Rawhib dalam Islam (disebut juga Imra’atul Aziz), yang memenjarakan Yusuf, atas pengaduan Putri perihal tindakan Yosua, Fredy Sambo langsung meledak. Konon diawali tangis pula.
Ia kemudian memerintahkan ajudannya yang lain, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu, untuk menembak Yosua, yang, setidaknya seperti diungkap di pengadilan, lantaran merasa tertekan dan takut, kemudian melaksanakan perintah itu sembari menutup mata. Richard menembak Yosua beberapa kali.
Persidangan sudah barang tentu mencuatkan pembelaan-pembelaan Sambo dan Putri. Ada kalimat-kalimat yang mendayu.
Kalimat yang hendak ditendensikan mengharukan. Ada air mata, yang mengaca, yang mengalir membelah pipi maupun yang membuncah hebat meledakkan tangis.