Pemakaman
Mengapa Orang Toraja Menguburkan Keluarganya di Tebing Batu? Ini Penjelasannya
Jika warga Toraja yang meninggal dunia harus dimakamkan di tanah, ada kemungkinan tanah persawahan dan perladangan di Toraja akan habis.
Penulis: Redaksi | Editor: Muh. Irham
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/LOnda.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Salah satu kebiasaan masyarakat Toraja adalah memakamkan keluarganya di tebing batu kapur. Tradisi itu sudah berlangsung ratusan tahun dan masih berlangsung hingga saat ini.
Ternyata ada alasan logis mengapa masyarakat Toraja dimakamkan di tebing batu.
Alasan utamanya adalah karena wilayah Toraja didominasi dataran tinggi dan hanya sebagian kecil yang bisa digunakan untuk pertanian dan perladangan.
Jika warga Toraja yang meninggal dunia harus dimakamkan di tanah, ada kemungkinan tanah persawahan dan perladangan di Toraja akan habis.
Oleh karena itu, jalan satu-satunya adalah dengan memakamkan keluarga yang meninggal di lubang batu cadas. Lubang batu itu bisa digunakan untuk banyak orang.
Hal yang sama dilakukan oleh masyarakat Hidu di Bali. Mereka melakukan upacara ngaben atau pembakaran mayat untuk mengurangi pemakaman di dalam tanah.
"Makanya kalau dimakamkan ke tanah mungkin sudah habis dataran rendah kami, sehingga kami tidak bisa bersawah. Sama seperti di Bali bisa ibu bapak bayangkan kalau orang Bali tidak ditunjukan bukan agama Budha atau Hindu, mungkin sudah habis itu pure yang disana, Makanya mereka dikumpulkan di dalam satu pura yang menjadi kontainer dan itu isinya bisa puluhan ribu," ujar Layuk Sarunggalo, tokoh adat di Tongkonan Kete Kesu, Kabupaten Toraja Utara beberapa waktu lalu.
Namun belakangan, tradisi memakamkan mayat ke dalam batu, sudah mulai berkurang. Hal itu dilakukan untuk menghormati masyarakat yang berbeda keyakinan.
"Seperti saya yang membuat rumah yang dibagian dalamnya ada yang tidak semen, hal ini agar keluarga saya yang Muslim bisa ditempatkan bersama keluarga saya yang Kristen. Sehingga kami bisa menguburkan saudara kami yang Muslim tanpa melanggar hukum agama dan adat istiadat," ujar Layuk.
Menurutnya, sistem penguburan di tebing khas masyarakat Toraja adalah untuk menjaga hubungan kekeluargaan. Meski mereka terpisah secara agama tetapi hubungan emosional harus dijaga.(*)