KKB Papua
Egianus Kogoya Ancam Tembak Pilot Susi Air Kapten Philips Methrtens, Ini Alasannya
Ancaman itu dilontarkan Egianus karena proses negosiasi oleh pemerintah Indonesia belum menemukan titik terang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/27062023_.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, JAYAPURA - Egianus Kogoya mengeluarkan ancaman kepada Pemerintah Indonesia.
Pimpinan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) wilayah Kabupaten Nduga, Papua Tengah, ini akan menembak pilot Susi Air, Kapten Philips Mark Methrtens.
Ancaman itu dilontarkan Egianus karena proses negosiasi oleh pemerintah Indonesia belum menemukan titik terang.
Padahal, Egianus dan anggotanya sudah memberikan waktu kepada pemerintah untuk negosiasi.
"Mengapa Indonesia tidak mampu lakukan external negotiation dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)," katanya secara tertulis, diterima Tribun-Papua.com, Selasa (27/6/2023).
Egianus Kogoya mengatakan apabila pihaknya menembak pilot Susi Air tersebut, maka yang bertanggung jawab adalah pemerintah Indonesia.
"Kenapa kami katakan begitu? Karena terbukti hingga saat ini belum ada negosiasi," ujarnya.
Menurut Egianus, Philip Methrtens adalah karyawan Susi Air, dan Susi Air adalah perusahaan milik Indonesia.
"Oleh sebab itu pemerintah Indonesia musti tanggung jawab, karena sudah janji mampu menjamin nyawanya," ucapnya.
Sebelumnya, Kapolda Papua, Irjen Pol Mathius Fakhiri, menyampaikan terkait perkembangan pilot Susi Air tersebut. Ia mengungkapkan jika hingga kini pihak TNI-Polri masih terus lakukan upaya penyelamatan.
Kata Fakhiri, kini, tim memusatkan penelusuran di sekitar wilayah Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan.
Dalam proses penyelamatan ini, perlu berkolaborasi dengan Satgas Damai Cartenz dan TNI, untuk membantu penangkapan terhadap pelaku penyanderaan dan juga untuk menyelamatkan pilot Susi Air tersebut.
“Kita sudah mengambil langkah mulai dari tahap awal sampai dengan terakhir. Saya juga sudah bertemu dengan semua pihak maupun Tokoh agama, tokoh masyarakat untuk dapat bernegosiasi dengan kelompok Egianus Kogoya,” ucap Fakhiri.
Terkait dengan batasan waktu yang di share oleh kelompok Egianus Kogoya, kata Fakhiri, hal ini akan menjadi sebuah pertimbangan secara cermat untuk pihaknya melihat proses tersebut secara kehati-hatian dalam mengambil langkah-langkah penegakan hukum.
“Kami tidak mau nanti dampak yang kita lakukan itu bisa berakibat fatal pada pilot tersebut dan tentunya kami sudah memetakan bagaimana posisi yang ada pada pilot serta akan membuat rapat khusus untuk mengambil langkah-langkah cepat dalam sisa waktu yang ada ini untuk bisa betul-betul baik langkah negosiasi dan penegakan hukum akan kita lakukan,” ujarnya.