Minggu, 10 Mei 2026

6 Alasan Anak Muda Tunda Menikah, Bukan Sekadar Takut Komitmen

Banyak anak muda kini memilih menunda pernikahan bukan karena tak ingin, tetapi demi persiapan matang. Simak 6 alasan utama mereka menunda menikah...

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto 6 Alasan Anak Muda Tunda Menikah, Bukan Sekadar Takut Komitmen
Freepik
TUNDA NIKAH - Ilustrasi. Banyak anak muda kini memilih menunda pernikahan bukan karena tak ingin, tetapi demi persiapan matang. Simak 6 alasan utama mereka menunda menikah, mulai dari kesiapan finansial hingga penguasaan ilmu parenting. 

TRIBUNTORAJA.COM – Di tengah maraknya unggahan pernikahan di media sosial, masih banyak anak muda yang memilih untuk menahan diri.

Mereka bukan tak ingin menikah, tetapi lebih ingin memastikan kesiapan sebelum melangkah ke pelaminan.

Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta menunjukkan bahwa sebanyak 2,09 juta dari total 7,78 juta penduduk Jakarta yang berusia di atas 19 tahun belum menikah.

Rinciannya, 1.201.827 laki-laki dan 896.858 perempuan memilih menunda pernikahan.

“Aktivitas yang tinggi di Jakarta dikarenakan kebutuhan ekonomi, persaingan secara umum, karier hingga pendidikan. Hal ini berimplikasi terhadap penundaan pernikahan hingga sampai pada masalah enggan untuk menikah,” ujar Kepala Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, dikutip dari Antara, Senin (28/7/2025).

 

 

Berikut enam alasan utama mengapa banyak anak muda memutuskan untuk menunda pernikahan:

1 . Kesiapan finansial

Bernath (24), seorang karyawan swasta di Jakarta, menyebut kestabilan ekonomi sebagai fondasi utama.

Ia ingin memastikan bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga tanpa membebani orangtua.

“Bekalnya yang utama perekonomian yang stabil, cara mengatur keuangan dan menabung untuk masa depan,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (23/7/2025).

 

Baca juga: Siswa Mengeluh ke Istri Gubernur Sulsel Menu Sayur MBG Tak Pernah Ganti

 

2. Kesiapan menjadi kepala keluarga secara mental dan kepemimpinan

Bernath juga menekankan pentingnya kesiapan mental dan kepemimpinan sebelum menjadi suami dan ayah.

“Parenting terkait bagaimana kesiapan menjadi kepala keluarga yang baik, belajar untuk membangun dan menyatukan dua kepribadian yang berbeda nantinya harus benar-benar disiapkan,” jelasnya.

 

3. Komunikasi yang sehat dan kedewasaan emosional

Putri (24), seorang karyawan swasta, menilai kemampuan komunikasi dan penyelesaian konflik juga sangat penting dalam pernikahan.

“Selain kesiapan finansial, aku juga ingin membekali diri dengan pemahaman soal komunikasi yang sehat, manajemen konflik,” katanya kepada Kompas.com, Selasa (22/7/2025).

“Kemampuan untuk berbagi kehidupan bersama seseorang secara dewasa dan saling mendukung juga tidak kalah penting,” tambahnya.

 

Baca juga: Perputaran Uang Judi Online Tembus Rp 1.200 Triliun, PPATK Blokir 28 Ribu Rekening

 

4. Mengenal diri sendiri secara utuh

Desy (23), pekerja paruh waktu, memilih untuk memahami dirinya terlebih dahulu sebelum menikah.

“Pastinya kematangan diri, mulai dari mengenal diri sendiri seutuhnya supaya bisa tahu nilai, tujuan, dan harapan dari pernikahan nanti seperti apa,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (23/7/2025).

 

5. Kesiapan emosional dan komitmen bertumbuh bersama pasangan

Menurut Desy, pernikahan bukan sekadar cinta, tetapi tentang berbagi kehidupan jangka panjang dan tanggung jawab.

“Kesiapan emosional juga penting karena ketika menikah aku harus berbagi hidup dan bertanggung jawab juga dengan pasangan seumur hidup,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya menyamakan visi dan tanggung jawab rumah tangga.

 

Baca juga: Tomat dan Cabai Turun, Bawang Merah Naik di Pasar Pagi Rantepao Toraja Utara

 

6. Membekali diri dengan ilmu parenting

Baik Bernath maupun Desy sepakat bahwa ilmu parenting sangat penting untuk dipahami sejak sebelum menikah.

“Hal wajib yang perlu gue pelajari itu juga ilmu parenting. Aku lihat lingkungan sekitar banyak yang belum punya bekal itu tapi hanya ingin merasakan euforianya menikah, jadi aku enggak mau hal serupa terjadi sama aku,” kata Desy.

Melalui cerita tiga anak muda ini, terlihat bahwa keputusan untuk menunda pernikahan bukanlah bentuk penolakan terhadap institusi pernikahan, melainkan bentuk tanggung jawab untuk membangun kehidupan rumah tangga yang sehat, dewasa, dan berkelanjutan.

(*)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved