Kamis, 4 Juni 2026

Saat Kadis Ketapang Toraja Utara 'Marah' Harga Beras Dinaikkan Rp 1.000 di Pasar Murah

Padahal, dari Bulog sudah ditetapkan harga beras yaitu Rp 11 ribu per kilonya.

Tayang:
Penulis: Lilianti Ariyani Saalino | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Saat Kadis Ketapang Toraja Utara 'Marah' Harga Beras Dinaikkan Rp 1.000 di Pasar Murah
TribunToraja
HARGA BERAS - Kadis Ketahanan Pangan dan Perikanan Toraja Utara, Paulus Batti, saat ditemui di ruangannya beberapa waktu lalu. Paulus sempat marah saat mengetahui harga beras dinaikkan saat Pasar Murah di Lapangan Bakti, Selasa (29/7/2025) kemarin. 

TRIBUNTORAJA. COM, Rantepao - Pasar murah yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (Ketapang) Toraja Utara di Lapangan Bakti, Rantepao, Toraja Utara, Selasa (29/7/2025) diwarnai insiden.

Kepala Dinas Ketapang Toraja Utara, Paulus Batti, sempat terlihat 'marah-marah'.

Pasalnya, ia menemukan kejanggalan dalam sembako yang dijual, utamanya beras yang saat ini harganya melambung.

Di Pasar Murah tersebut mematok harga beras keluaran Bulog Rp 60.000 untuk 5 kg. Artinya, untuk 1 kilogram dihargai Rp 12.000.

Padahal, dari Bulog sudah ditetapkan harga beras yaitu Rp 11 ribu per kilonya.

Kabid Ketersediaan dan Distribusi Pangan, Yopita Sampe Allo, termasuk salah satu yang berada di garda terdepan dalam masalah ini.

"Kan inikan beras kita beli Rp 55 ribu lalu mereka menjual Rp 60 ribu, tanpa sepengetahuan saya," kata Paulus mencak-mencak.

Selain itu, Yopita dikabarkan menggelar Pasar Murah ini tanpa sepengetahuan Kepala Dinas Ketapang, Paulus Batti.

"Dia (Yopita) pesan beras ke Bulog, dia bikin jadwal, dia membuat keputusan Harga," tambahnya.

Bagi Paulus Batti, menaikan harga Rp 1.000 dengan alasan akomodasi, masih terlalu mahal.

"Ini terlalu mahal kalau Seribu (rupiah) akomodasinya," ucapnya.

Paulus Batti mengaku masih memaklumi jika dinaikkan dengan harga yang wajar, asal tidak memberatkan warga.

"Jika seandainya dijual Rp 58 ribu per sak (5 Kg) atau masih turun sedikit dari harga itu, bolehlah. Karena masih ada akomodasi (pengangkut dan angkutan). Tapi harus rinci berapa pengeluarannya," tutur Paulus.

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved