Selasa, 12 Mei 2026

Konflik Iran vs Israel

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Indonesia Kena Dampaknya

Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak mentah yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia. 

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, Indonesia Kena Dampaknya
Grafis Tribunnews
SELAT HORMUZ - Grafis dampak yang ditimbulkan jika Iran menutup Selat Hormuz. Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respon atas serangan Amerika Serikat pada 3 fasilitas nukril Iran ada 21-22 Juni 2025. 

TRIBUNTORAjA.COM - Serangan Amerika Serikat ke tiga fasilitas nuklir pada Sabtu dan Minggu (21-22/6/2025), membuat Iran berang.

Iran pun mengancam akan menutup Selat Hormuz.

Selat Hormuz terletak di antara Oman dan Iran dan merupakan rute ekspor utama bagi produsen minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, dan Kuwait.

Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran pun bersiap untuk menutup Selat Homuz. Langkah ini merupakan tanggapan atas serangan udara Amerika Serikat terhadap tiga lokasi nuklir strategis Iran.

Meski belum diputuskan secara resmi, tapi wacana ini telah mendapatkan dukungan dari parlemen. 

Ancaman itu pun menggema hingga pasar global, memicu kekhawatiran akan krisis energi baru.

Lantas, apa dampak bagi Indonesia?

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan, situasi ini bisa berdampak langsung pada distribusi energi dan bahan baku global, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur penting migas dunia.

“Ini baru pertama kalinya AS serang Iran langsung, sehingga timbul kekhawatiran eskalasi konflik akan meluas di Timur Tengah. Situasinya akan menyebabkan terganggunya distribusi migas dan berbagai bahan baku melalui Selat Hormuz,” ujar Bhima, Senin (23/6/2025), dikutip dari Tribunnews.com

Ia menyebut, meski permintaan energi dunia saat ini sedang melandai, potensi konflik bersenjata bisa menjadi pemicu lonjakan harga minyak.

“Estimasi harga minyak mentah menyentuh 80-83 dolar AS per barel dalam waktu dekat, setidaknya awal Juli 2025. Meski permintaan energi saat ini sedang turun, tapi konflik bisa mendorong naiknya harga minyak signifikan,” kata Bhima.

Dampak ke Indonesia dinilainya tak bisa dianggap remeh. 

Bhima mengingatkan, lonjakan harga minyak akan memperburuk posisi neraca perdagangan dan menekan daya beli masyarakat.

“Yang harus diperhatikan pemerintah adalah lonjakan biaya impor BBM akan sebabkan inflasi harga yang diatur pemerintah melonjak, tapi di saat daya beli lesu. Ini bukan inflasi yang baik,” jelasnya.

Kenaikan harga BBM, lanjut Bhima, akan diteruskan ke pelaku usaha dan konsumen, sehingga konsumsi rumah tangga ikut melambat.

"Begitu harga BBM naik, diteruskan ke pelaku usaha dan konsumen, membuat pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat. Proyeksinya jika perang berlangsung lebih lama, ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh 4,5 persen year on year tahun ini," ucapnya.

Target pertumbuhan ekonomi 8 persen pun dinilai semakin jauh dari jangkauan.

“Makin berat mencapai target 8 persen pertumbuhan ekonomi karena situasi eksternalnya terlalu berat, ditambah adanya efisiensi anggaran pemerintah,” tambah Bhima.

Bhima pun memberikan empat rekomendasi agar pemerintah bisa meredam dampak negatif konflik ini terhadap perekonomian nasional.

1. Mengamankan investasi Timur Tengah

"Segera mengamankan komitmen investasi dari negara Timur Tengah khususnya GCC (UAE, Qatar, Saudi, dsb) sebelum eskalasi konflik di Timur Tengah terus naik," ucap Bhima

2. Dorong energi terbarukan

"Mendorong pengembangan energi terbarukan lebih cepat sehingga ketahanan energi dapat terjaga, tidak terlalu bergantung pada impor BBM dan LPG," sambungnya.

3. Percepat serapan anggaran

"Mempercepat serapan anggaran khususnya yang berorientasi pada penciptaan lapangan kerja," kata Bhima

4. Turunkan suku bunga

"Bank Indonesia wajib memastikan transmisi suku bunga yang lebih rendah ke bank domestik," tutur Bhima.

Diketahui, Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia kembali terancam ditutup di tengah memanasnya konflik antara AS dan Iran.

Iran sebelumnya kerap mengancam penutupan selat ini setiap kali tensi geopolitik meningkat, termasuk saat dikenai sanksi ekonomi atau terjadi serangan militer.

Penutupan Selat Hormuz dikhawatirkan akan mengganggu suplai energi global dan memicu lonjakan harga minyak dunia dalam waktu singkat.

Indonesia Terancam Krisis Energi

Sementara itu, anggota Komisi I DPR RI, Mayjen TNI (Puan) TB Hasanuddin, mengungkap dampak ekonomi bagi Indonesia jika Selat Hormuz ditutup Iran.

Menurut dia, sebagai negara importir minyak utama dari Timur Tengah, Indonesia diperkirakan akan terdampak dalam beberapa hal, antara lain: pembengkakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada APBN, kenaikan harga BBM domestik, serta inflasi akibat tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Selain itu, Indonesia juga mengalami hambatan pasokan energi lain, yaitu LPG yang diimpor dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA) yang melewati Selat Hormuz.

"Peningkatan biaya logistik juga akan terjadi jika Indonesia harus mencari jalur alternatif untuk suplai energi,” ujar TB Hasanuddin kepada wartawan, Selasa (24/6/2025).

Dalam menghadapi situasi ini, TB Hasanuddin menyarankan langkah-langkah strategis yang dapat ditempuh Indonesia, seperti diversifikasi sumber energi ke energi terbarukan, mengupayakan diplomasi energi dengan negara-negara di luar Teluk Persia, serta memperkuat cadangan energi strategis dan mempercepat pembangunan kilang minyak dalam negeri.

Hal ini penting untuk menghindari Indonesia dari krisis energi jika eskalasi konflik makin tinggi.

Mengenai eskalasi konflik pasca serangan AS ke Iran, TB Hasanuddin mengingatkan potensi peningkatan konflik jika Iran melakukan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Irak, Suriah, Qatar, atau UEA.

“Kemungkinan eskalasi juga meningkat jika Iran menyerang kapal perang atau tanker minyak di Teluk Persia. Penguatan kelompok militan pro-Iran seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, dan milisi Syiah di Irak juga dapat melancarkan serangan asimetris terhadap AS, Israel, dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa situasi ini berpotensi menyebabkan perang terbuka antara negara-negara besar dunia, seperti Rusia, China, Inggris, Prancis, dan AS, apabila polaritas konflik terus meningkat.

Dia menjelaskan, Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak mentah yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar dunia. 

Setiap hari, sekitar 20-30 persen minyak mentah global melewati jalur ini.

Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah saat ini dan potensi penutupan Selat Hormuz membawa risiko serius bagi stabilitas pasokan energi dunia, termasuk Indonesia.

"Blokade Selat Hormuz akan menyebabkan terganggunya pasokan minyak dan memicu kenaikan harga minyak mentah dunia," ujar TB Hasanuddin.

Sedangkan harga minyak mentah Brent naik dari USD 65 per barrel di awal Juni menjadi USD 73 di pertengahan Juni 2025. 

Jika Iran benar-benqr menutup selat ini, maka harga minyak dan LNG ke depan akan naik, dan berpotensi harga minyak mentah bisa naik di atas USD 90 per barrel.

Walaupun hingga saat ini kedua negara belum menargetkan serangan ke fasilitas-fasilitas migas, namun potensi serangan tetap ada dan ini merugikan suplai minyak mentah dunia. 

Iran sendiri diketahui memiliki cadangan minyak nomor delapan di dunia dan cadangan gas nomor empat di dunia. Diperkirakan 3 persen suplai minyak mentah di dunia akan terganggu.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Iran akan Tutup Selat Hormuz Imbas Serangan Amerika, Begini Dampaknya ke Indonesia?, https://www.tribunnews.com/bisnis/2025/06/23/iran-akan-tutup-selat-hormuz-imbas-serangan-amerika-begini-dampaknya-ke-indonesia?page=all

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved