Kamis, 30 April 2026

Konflik Iran vs Israel

Iran Balas Gempur Israel: Tiga Tewas, Netanyahu Mengungsi

Beberapa rudal Iran ini menghantam Israel bagian tengah, dengan ledakan besar terdengar di Tel Aviv dan Yerusalem.

Tayang:
Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Iran Balas Gempur Israel: Tiga Tewas, Netanyahu Mengungsi
X
SERANGAN IRAN - Iran melancaran serangan rudal ke pusat kota Israel, Sabtu (14/6/2025) dini hari. Sejumlah bangunan dan fasilitas lainnyga rusak akibat serangan tersebut, 3 orang dilaporkan tewas. 

TRIBUNTORAJA.COM - Militer Iran membalas serangan Israel dengan terus menggempur wilayah Tel Aviv sejak Jumat (13/6/2024) malam hingga hingga Sabtu (14/6/2025) dini hari.

Bersamaan dengan itu PM Israel, Benyamin Netanyahu, diungsikan.

Sejumlah rudal ditembakkan ke wilayah pusat Israel, menandai salah satu aksi militer terbesar Iran terhadap Israel.

Disebutkan, Iran melepaskan empat serangan rudal, masing-masing terdiri dari puluhan proyektil.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim menyasar pangkalan militer, pertahanan Udara, dan pusat komando di Israel.

Militer Israel (IDF) menyebut sebagian besar rudal berhasil dicegat sebelum mencapai target, namun sejumlah rudal menghantam wilayah padat penduduk dan menimbulkan kerusakan ringan di beberapa lokasi.

Sebanyak tujuh rudal Iran berhasil menghantam wilayah metropolitan Tel Aviv, membuat tujuh orang "terluka ringan dan sedang" setelah serangan yang menghantam perbatasan Tel Aviv dan kota Ramat Gan di Israel.

"Sejauh ini, tujuh orang mengalami luka ringan hingga sedang akibat serangan yang menghantam wilayah perbatasan Tel Aviv dan Ramat Gan," ujar laporan Israel Hayom.

Serangan Iran juga turut memicu kepanikan, warga dilaporkan berhamburan ke tempat perlindungan saat sirine peringatan berbunyi di beberapa kota besar.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan ledakan di langit serta puing-puing bangunan yang terkena serpihan rudal.

Pemerintah Israel hingga kini masih dalam keadaan siaga tinggi.

Sementara, pihak militer menyatakan akan memberikan respons terhadap serangan Iran tersebut, namun belum ada pernyataan rinci mengenai bentuk balasan yang akan diambil.

Di sisi lain, Iran menyatakan serangan ini sebagai bentuk "pembalasan yang sah" terhadap serangan Israel sebelumnya.

Pimpinan tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyebut langkah Israel sebagai provokasi berbahaya yang akan dibalas lebih keras jika berlanjut.

Dalam tulisan di media sosial X, ia memperingatkan Israel, "Tidak akan lolos tanpa cedera dari kejahatan ini".

Menurut pernyataan dari otoritas tanggap darurat Israel, akibat serangan itu, jumlah korban tewas kini mencapai tiga orang, dengan puluhan lainnya luka-luka.

Dua korban meninggal di Rishon Lezion setelah rudal menghantam dekat pemukiman warga. Sementara korban ketiga adalah seorang Wanita yang tewas akibat pecahan senjata yang jatuh di Ramat Gan, dikutip dari CNN.

Sedikitnya 80 orang terluka, dengan kondisi serius hingga kritis.

Magen David Adom menyebut 19 korban luka berasal dari serangan di dekat Tel Aviv, sisanya tersebar di beberapa titik terkena dampak lainnya. 

Beberapa rudal Iran ini menghantam Israel bagian tengah, dengan ledakan besar terdengar di Tel Aviv dan Yerusalem.

Asap tebal terlihat mengepul dari lokasi-lokasi benturan di sekitar Tel Aviv.

Informasi yang beredar, sejumlah bangunan runtuh. Dilaporkan, banuak warga yang terperangkap di bawah reruntuhan.

Layanan darurat terus melakukan evakuasi dan pencarian korban sepanjang malam.

Sebelumnya, Israel melancarkan rentetan rudal yang menargetkan beberapa lokasi penting di Iran pada Jumat (13/6/2025). 

Lebih dari 200 target terkena rentetan rudal Iran, termasuk fasilitas nuklir (Natanz, Fordow, Khondab), pangkalan militer, serta kediaman pejabat tinggi Iran.

Korban termasuk pejabat tinggi militer Iran seperti Mayor Jenderal Mohammed Bagheri dan Kepala Garda Revolusi, Hossein Salami, juga beberapa ilmuwan nuklir Iran.

Netanyahu Mengungsi

Perdana Menteri (PM) Israel, Benyamin Netanyahu, dilaporkan mengungsi di tengah memanasnya eskalasi perang pasca-rudal Iran hantam Tel Aviv.

Dilansir The Jerusalem Post, Netanyahu meninggalkan Israel menggunakan pesawat kenegaraan Wing of Zion, versi Air Force One, Jumat pagi (13/6/2025).

Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari Kantor Perdana Menteri Israel mengenai lokasi pasti Netanyahu, namun berbagai sumber diplomatik memastikan keberadaannya di Yunani.

Laporan dari media seperti TRT yang mengutip sumber diplomatik menyebut pesawat resmi Netanyahu terlihat mendarat atau transit di Athena, Yunani.

Ini sebagai langkah evakuasi keamanan saat eskalasi konflik Israel–Iran meningkat.

Dipilihnya Yunani bukan tanpa alasan. Pasalnya, Yunani secara geografis dekat dengan Israel, namun berada di luar zona konflik langsung.

Jadi, Yunani menjadikan lokasi ideal untuk evakuasi cepat sekaligus tetap dekat dengan kawasan jika diperlukan untuk kembali.

Selain itu, Israel dan Yunani telah menjalin hubungan diplomatik yang sangat baik selama satu dekade terakhir.

Yunani secara konsisten menjadi mitra strategis Israel di kawasan Mediterania Timur, termasuk dalam aliansi segitiga dengan Siprus.

Situasi ini membuat Yunani menjadi tempat evakuasi yang aman secara politik dan diplomatik.

Perintah ICC

Spekulasi meningkat terkait keberadaan Netanyahu di Yunani setelah serangan balasan besar-besaran Iran ke wilayah Israel.

Keberadaan Netanyahu di negara itu memunculkan pertanyaan, akankah Yunani menjalankan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu yang dikeluarkan oleh Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

ICC sendiri diketahui telah mengeluarkan surat perintah terhadap Netanyahu dan mantan menteri pertahanan, Yoav Galant, atas peran mereka dalam krisis kemanusiaan di Gaza sejak 7 Oktober 2023.

Namun, kemungkinan Yunani akan melaksanakan surat perintah tersebut dinilai sangat kecil meskipun Yunani merupakan anggota ICC.

Yunani secara teknis memiliki kewajiban untuk menindaklanjuti surat perintah tersebut, tetapi pengamat memproyeksi Yunani akan mengabaikan perintah itu karena pertimbangan politik dan hubungan bilateral dengan Israel.

Terlebih saat konferensi pers tak lama setelah pengumuman ICC tahun lalu, juru bicara pemerintah Yunani, Pavlos Marinakis, menyampaikan pernyataan yang mengisyaratkan sikap diplomatik berhati-hati Athena terhadap isu tersebut.

"Keputusan seperti itu [dari ICC] tidak membantu dan tidak akan menyelesaikan masalah apa pun," ujar Marinakis saat itu.

Ia juga menekankan Israel seharusnya tidak disamakan dengan negara-negara yang memulai permusuhan, karena telah menjadi korban dari serangan teroris.

Komentar ini memperlihatkan pemerintah Yunani memiliki posisi yang relatif pro-Israel, dan memilih untuk tidak mengambil langkah hukum terhadap pemimpin negara tersebut.

Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Korban Bertambah, Tiga Tewas dalam Serangan Balasan Iran ke Israel

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved