Senin, 13 April 2026

Peserta Curang SNBT/UTBK 2025 Terbanyak Fakultas Kedokteran

Rekayasa AI itu digunakan untuk melakukan kamuflase perubahan kartu peserta yang akan mengikuti ujian SNBT 2025.

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Peserta Curang SNBT/UTBK 2025 Terbanyak Fakultas Kedokteran
ist
MAHASISWA BARU - Rektor UNM, Prof Karta Jayadi, memantau pelaksanaan UTBK-SNBT pada hari kedua untuk peserta berkebutuhan khusus (disabilitas), Kamis (24/4/2025). Sebanyak 10 orang yang mengikuti ujian, terdiri dari 7 peserta tunanetra dan 1 peserta tuna daksa dan tuna rungu 2 orang. 

TRIBUNTORAJA.COM - Berbagai praktik kecurangan ditemukan dalam Seleksi Nasional Berbasis Tes-Ujian Tulis Berbasis Komputer (SNBT/UTBK) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) 2025.

Setidaknya ada 50 peserta melakukan kecurangan serta 10 orang joki dalam enam hari pelaksanaan ujian.

Kecurangan yang terjadi beragam.

Mulai dari pemasangan alat bantu seperti pemasangan kamera di kacamata, mikrofon dan pengeras suara di alat bantu dengar, hingga penggunaan perangkat lunak melalui aplikasi rekaman layar hingga penggunaan aplikasi pengendali jarak jauh atau remote desktop di komputer yang digunakan oleh para peserta.

Namun, ada modus kecurangan baru yang ditemukan dalam SNBT/UTBK tahun ini.

Yakni ditemukannya peserta ujian membuat kartu ujian dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI).

Ketua Umum Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2025, Eduart Wolok, menyebut penggunaan AI itu menjadi modus kecurangan terbaru dalam pelaksanaan SNBT/UTBK.

Rekayasa AI itu digunakan untuk melakukan kamuflase perubahan kartu peserta yang akan mengikuti ujian SNBT 2025.

"Kalau modus paling baru itu kan dengan menggunakan rekayasa AI, dengan mengamuflase dari mulai kartu peserta dan sebagainya," kata Eduart di Kantor Kemendiktisaintek, Jakarta, Selasa (27/5/25).

Eduart menjelaskan, kamuflase kartu menggunakan rekayasa AI itu bertujuan agar peserta bisa mengubah lokasi ujian yang tertera dalam kartu.

Namun, kata dia, rekayasa AI tidak efektif lantaran setiap kartu SNBT 2025 telah dibubuhi kode batang (barcode) hingga penomoran tertentu yang unik.

“Di kartu peserta itu memiliki barcode. Jadi ketika kita melakukan deteksi dan ternyata barcode serta kartunya tidak sesuai, maka akan langsung ketahuan,” ujarnya.

Eduart menjelaskan bahwa setiap pusat UTBK memiliki kode khusus yang tertanam dalam sistem.

Panitia bisa mengetahui bila seorang peserta mencoba memalsukan lokasi ujian yang tertera di kartu.

"Jadi misalnya ada peserta menyampaikan kartunya bahwasanya dia ujian di pusat UTBK A gitu. Dia tidak sadar bahwasanya kita memiliki kode, baik di penomoran maupun barcode itu," tutur Eduart.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved