Rabu, 15 April 2026

Ramadan 2025

Hikmah Ramadan, Merawat Kemabruran Puasa bagian 7: Lebih Banyak Diam

Kita juga sering bersyukur karena bisa bersikap diam dan mengendalikan diri sehingga terbebas dari fitnah dan marabahaya. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Redaksi | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Hikmah Ramadan, Merawat Kemabruran Puasa bagian 7: Lebih Banyak Diam
Getty Images/iStockphoto/wing-wing
HIKMAH RAMADAN - Ilustrasi Ramadan.Prof Nasaruddin memberikan hikmah Ramadan agar lebih banyak diam. 

Oleh Menteri Agama Prof Dr KH Nasaruddin Umar MA

TRIBUNTORAJA.COM - Ada pepata kuno mengatakan, diam adalah emas dan bicara adalah perak. 

Kita bisa setuju atau tidak dengan pepatah ini tetapi yang pasti kita sendiri seringkali menyesal karena
terlalu banyak bicara. 

Kita juga sering bersyukur karena bisa bersikap diam dan mengendalikan diri sehingga terbebas dari fitnah dan marabahaya. 

Kita juga sering setuju dengan pernyataan, kita lebih gampang disuruh bicara ketimbang disuruh diam. Yang pasti mungkin semuanya kita pernah memilih diam sebagai jawaban yang paling tepat.

Nabi Zakaria juga pernah mengalami hal ini sebagaimana diungkapkan dalam Surah Maryam. Ia sangat berhasrat memiliki anak. 

Ia tak pernah berhenti berdoa meskipun usianya sudah tua dan isterinya juga demikian. 

Sebagai wujud tanda syukur dan sekaligus nazar sekiranya ia berhasil dikaruniai anak maka ia akan berpuasa biara selama tiga hari, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: Zakaria berkata, Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda.

Tuhan berfirman: Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia
selama tiga malam, padahal kamu sehat. (Q.S. Maryam/19:10). 

Akhirnya doanya dikabulkan dan Nabi Zakaria pun menunaikan nazarnya dengan berpuasa bicara selama hari yang ditentukan.

Diam atau puasa bicara bukan pekerjaan mudah bagi orang normal. Namun Allah SWT selalu mengingatkan kita agar hati-hati soal bicara, sebagaimana firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”. (QS.
Al-Ahzab/33:70). 

Dalam hadis Nabi disebutkan: "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasulunya maka hendaklah ia mengatakan yang benar atau lebih baik diam". 

Nabi juga mengingatkan kita: "Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam
adalah pada lidahnya". 

"Musibah itu terwakili melalui ucapan". 

"Sesungguhnya dosa yang paling banyak dilakukan oleh anak cucu Adam adalah pada lidahnya". 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved