Banjir Sulsel
Banjir Sulsel, Bocah SD di Barru Tewas Terseret Arus
Sementara tenda-tenda warga yang didirikan secara mendiri, belum tersentuh bantuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/Kondisi-genedee.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Hujan deras yang mengguyur sebagian besar wilayah Sulsel sejak Jumat (20/12/24), mengakibatkan 13 kabupaten dan kota di Sulsel terendam banjir dengan ketinggian bervariasi.
Salah satu daerah yang menjadi langganan banjir setiap tahun adalah, Kompleks Perumnas Antang Blok 8 dan 10, Kecamatan Manggala, Makassar.
Pada banjir kali ini, ketinggian air bahkan telah mencapai atap rumah warga.
Masjid yang menjadi tempat pengungsian, telah penuh oleh pengungsi.
Sebagian dari mereka terpaksa mendirikan tenda darurat secara mendiri.
Sayangnya, berdasarkan pengakuan warga, bantuan makanan dan minuman terpusat di posko induk.
Sementara tenda-tenda warga yang didirikan secara mendiri, belum tersentuh bantuan.
Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulsel, 13 daerah yang memiliki titik banjir, yakni Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Maros, Pangkep, Barru, Parepare, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Bone, dan Sinjai.
Di Maros contohnya, sebanyak 12 kecamatan terendam banjir.
Sedangkan di Makassar banjir merendam rumah-rumah warga di Kecamatan Biringkanaya dan Manggala.
Begitu juga di Barru yang dua hari terendam banjir. Bahkan, banjir di Kabupaten Barru menyebabkan ruas jalan trans Sulewesi terputus selama beberapa jam pada Sabtu (21/12/24).
Banjir di Barru menelan satu korban jiwa.
Seorang siswa kelas 3 SD Pacciro, R (10), dilaporkan meninggal dunia setelah terseret arus deras selokan.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala BPBD Barru, Umar Sinampe yang dikonfirmasi kemarin.
Ia mengungkapkan, peristiwa tragis ini terjadi saat korban bermain bersama temannya di saluran air pinggir jalan dekat jembatan dalam perjalanan pulang sekolah.