Kamis, 21 Mei 2026

Mangrara, Prosesi Peresmian Tongkonan Rumah Adat Khas Toraja yang Sarat Makna

Menjadi sebuah proses panjang nan sakral untuk membangun Tongkonan hingga benar-benar layak ditempati dan digunakan.

Tayang:
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Mangrara, Prosesi Peresmian Tongkonan Rumah Adat Khas Toraja yang Sarat Makna
TribunToraja/Rifki
Prosesi peresmian rumah adat khas suku Toraja menjadi sebuah prosesi panjang yang sarat makna berdasarkan kepercayaan Aluk Todolo. 

TRIBUNTORAJA.COM - Mampu membangun sebuah tongkonan menjadi sebuah kebanggaan masyarakat Toraja.

Tongkonan merupakan rumah adat yang sarat makna khas suku Toraja di Sulawesi Selatan.

Selain berkaitan dengan strata sosial, membangun Tongkonan sekaligus sebagai ajang melestarikan tradisi yang diwariskan turun-temurun berasal dari Aluk Todolo.

Menjadi sebuah proses panjang nan sakral untuk membangun Tongkonan hingga benar-benar layak ditempati dan digunakan.

Mantan Kepala Kantor Kemenag Tana Toraja, Nurdin Baturante dalam bukunya, Toraja Tongkonan & Kerukunan, mengatakan, sebuah bangunan rumah Tongkonan yang meskipun secara fisik telah rampung pembangunannya tidak serta merta ditempati.

Hal itu kata dia, karena kesiapan suatu bangunan rumah Tongkonan untuk ditempati dan dapat digunakan tergantung pada selesainya diresmikan lewat acara/upacara Mangrara Tongkonan.

Peresmian atau pentabisan yang secara garis besar menurut Aluk Todolo terdiri dari Ma'padao Paara (menempatkan/meletakkan di atas semacam rak piring); Mangrara Disangalloi (mengalirkan darah/berkurban untuk hanya satu hari); Mangrara Ditallung Alloi (mengalirkan darah/berkurban untuk dijadikan tiga hari) atau Mangrara Banua Ditallu Rarai (mengalirkan darah/berkurban dengan tiga macam darah hewan mulai kerbau, babi, dan darah ayam) atau disebut juga Merok Mangrara Banua.

Mangrara Ditallung Alloi dalam buku Nurdin mengacu pada acara syukuran yang dilaksanakan selama tiga hari dan berlaku untuk tongkonan jenis Kaparengngesan atau tongkonan Pekaindoran dan Pekaamberan.

Pengorbanan pada acara atau upacara ini berupa babi tambun yang dibawah oleh seluruh keluarga yang menjadi rumpun rumah tongkonan dengan tidak membatasi jumlahnya.

Dagingnya, disamping sebagai sesembahan atau sesajian, juga dibagi sesuai adat.

152024_Pembagian_daging_Rambu_Tuka
Babi yang dipersembahkan kemudian dipotong-potong lalu dibagikan kepada rumpun keluarga.

Pelaksanaannya dilaksanakan selama tiga hari meliputi hari pertama dengan acara Ma'tadampuk, suatu acara yang secara simbolis menyusun atap-atap kecil dengan kurban persembahan satu ekor babi.

Hari kedua dengan acara Ma'paapa (memasang atap) yang dimaknai sebagai hari puncak dari hari-hari Mangrara sehingga pada hari ini kurban babi paling banyak dilakukan. Juga diharapkan pada hari ini seluruh rumpun tongkonan yang diresmikan dapat hadir.

Kemudian hari ketiga dengan acara Ma'buubung atau simbolis pemasangan bubungan pada rumah tongkonan atau acara selamatan secara resmi dengan kurban persembahan dua hingga tiga ekor babi.

Adapun untuk Mangrara Banua Ditallurarai dalam Buku Nurdin pelaksanaannya sama dengan Mangrara Banua Ditallungalloi.

Bedanya hanya pada hewan yang dikurbankan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved