Mangrara, Prosesi Peresmian Tongkonan Rumah Adat Khas Toraja yang Sarat Makna
Menjadi sebuah proses panjang nan sakral untuk membangun Tongkonan hingga benar-benar layak ditempati dan digunakan.
Penulis: Muhammad Rifki | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/15102024_Mangrara_Banua.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Mampu membangun sebuah tongkonan menjadi sebuah kebanggaan masyarakat Toraja.
Tongkonan merupakan rumah adat yang sarat makna khas suku Toraja di Sulawesi Selatan.
Selain berkaitan dengan strata sosial, membangun Tongkonan sekaligus sebagai ajang melestarikan tradisi yang diwariskan turun-temurun berasal dari Aluk Todolo.
Menjadi sebuah proses panjang nan sakral untuk membangun Tongkonan hingga benar-benar layak ditempati dan digunakan.
Mantan Kepala Kantor Kemenag Tana Toraja, Nurdin Baturante dalam bukunya, Toraja Tongkonan & Kerukunan, mengatakan, sebuah bangunan rumah Tongkonan yang meskipun secara fisik telah rampung pembangunannya tidak serta merta ditempati.
Hal itu kata dia, karena kesiapan suatu bangunan rumah Tongkonan untuk ditempati dan dapat digunakan tergantung pada selesainya diresmikan lewat acara/upacara Mangrara Tongkonan.
Peresmian atau pentabisan yang secara garis besar menurut Aluk Todolo terdiri dari Ma'padao Paara (menempatkan/meletakkan di atas semacam rak piring); Mangrara Disangalloi (mengalirkan darah/berkurban untuk hanya satu hari); Mangrara Ditallung Alloi (mengalirkan darah/berkurban untuk dijadikan tiga hari) atau Mangrara Banua Ditallu Rarai (mengalirkan darah/berkurban dengan tiga macam darah hewan mulai kerbau, babi, dan darah ayam) atau disebut juga Merok Mangrara Banua.
Mangrara Ditallung Alloi dalam buku Nurdin mengacu pada acara syukuran yang dilaksanakan selama tiga hari dan berlaku untuk tongkonan jenis Kaparengngesan atau tongkonan Pekaindoran dan Pekaamberan.
Pengorbanan pada acara atau upacara ini berupa babi tambun yang dibawah oleh seluruh keluarga yang menjadi rumpun rumah tongkonan dengan tidak membatasi jumlahnya.
Dagingnya, disamping sebagai sesembahan atau sesajian, juga dibagi sesuai adat.
Pelaksanaannya dilaksanakan selama tiga hari meliputi hari pertama dengan acara Ma'tadampuk, suatu acara yang secara simbolis menyusun atap-atap kecil dengan kurban persembahan satu ekor babi.
Hari kedua dengan acara Ma'paapa (memasang atap) yang dimaknai sebagai hari puncak dari hari-hari Mangrara sehingga pada hari ini kurban babi paling banyak dilakukan. Juga diharapkan pada hari ini seluruh rumpun tongkonan yang diresmikan dapat hadir.
Kemudian hari ketiga dengan acara Ma'buubung atau simbolis pemasangan bubungan pada rumah tongkonan atau acara selamatan secara resmi dengan kurban persembahan dua hingga tiga ekor babi.
Adapun untuk Mangrara Banua Ditallurarai dalam Buku Nurdin pelaksanaannya sama dengan Mangrara Banua Ditallungalloi.
Bedanya hanya pada hewan yang dikurbankan.
| Minim Serapan Lokal, 1.116 Pencari Kerja Tana Toraja Pilih Merantau |
|
|---|
| Efisiensi Anggaran, Dishub Tana Toraja Kurangi Pergerakan |
|
|---|
| Permudah Akses Penyandang Disabilitas, Disnaker Tana Toraja Pindah Kantor |
|
|---|
| Ribuan Warga Toraja Doa Bersama Selamatkan Generasi dari Narkoba dan Pergaulan Bebas |
|
|---|
| Bobol 3 Toko di Makale, Warga Palopo Dibekuk Resmob Polres Tana Toraja |
|
|---|