Jumat, 22 Mei 2026

Entaskan Stunting, Pjs Bupati Toraja Utara: Beri Gizi Terpadu di 1.000 HPK

Amsonmenyebutkan bahwa stunting merupakan masalah prioritas berskala nasional, sehingga semua berkewajiban membahas dan mencari solusinya.

Tayang:
Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
zoom-inlihat foto Entaskan Stunting, Pjs Bupati Toraja Utara: Beri Gizi Terpadu di 1.000 HPK
ist
Pjs Bupati Toraja Utara, Amson Padolo, mengajak semua masyarakat Indonesia, khususnya stakeholder untuk sama-sama mengentaskan stunting dengan pemberian gizi terpadu pada bayi dan ibu di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Toraja Utara mengumpulkan Penyuluh dari BKKBN dan Penyuluh Kesehatan di ruang pola Kantor Bupati di Kecamatan Tondon, Toraja Utara, Sulsel, Selasa (1/10/2024) siang.

Pertemuan ini untuk membahas "Penerapan Komunikasi Perubahan Perilaku Untuk Pencegahan Stunting di Kabupaten Toraja Utara".

Pertemuan ini untuk menindaklanjuti surat dari Direktur Jenewa Madani Indonesia, Nomor 159/JI-NUT/IX/2024 tanggal 26 September 2024 tentang Permohonan Fasilitasi Kegiatan UNICEF dan Yayasan Jenewa Madani Indonesia bekerjasama dengan Pemprov Sulsel.

Kegiatan ini juga didukung oleh Tanoto Foundation, yang juga berperan sebagai pelaksana kegiatan Penerapan Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) untuk Pencegahan Stunting di Toraja Utara.

Pejabat sementara (Pjs) Bupati Toraja Utara, Amson Padolo, mengatakan bahwa stunting merupakan masalah prioritas berskala nasional, sehingga semua berkewajiban membahas dan mencari solusinya.

"Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita yang tidak sesuai dengan usianya karena kekurangan gizi kronis. Sehingga dibutuhkan upaya untuk memperkuat program pelayanan kesehatan dan gizi bagi ibu dan anak pada periode seribu Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK)," ucapnya.

Amson Padolo menjelaskan bahwa pencegahan stunting memerlukan intervensi gizi yang terpadu dan memerlukan penanganan berskala Nasional.

"Jadi ada pedoman strategi perubahan penurunan perilaku dalam penurunan stunting serta memerlukan perencanaan dan pemantauan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan unsur lainnya," tuturnya.

Sebagai catatan, angka kasus stunting di Toraja Utara mulai menurun di tahun 2024 ini jika dibandingkan dengan tahun 2023.

Berdasarkan data dari Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting di Toraja Utara tahun 2024 adalah 28,7 persen.

Data itu turun sekitar 5,4 persen jika dibandingkan dengan tahun 2023, di mana prevalensi kasus stunting Toraja Utara saat itu sebanyak 34,1 persen.

Data ini menempatkan Toraja Utara di posisi ke-11 angka kasus stunting di Sulsel.
(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved