Diaspora Bawa Malaria ke Toraja Utara

Yety menyebut Toraja bukan endemik Malaria, umumkan impor dari provinsi lain, khususnya wilayah Papua.

Penulis: Freedy Samuel Tuerah | Editor: Apriani Landa
Shutterstock
Ilustrasi nyamuk penyebab penyebaran penyakit Malaria 

TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Sebaran Malaria di Toraja Utara, per Januari-Agustus 2024, mencapai 228 kasus.

Ini berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Toraja Utara

Angka tersebut terbilang tinggi.

Salah satu faktor penyebabnya maraknya kasus Malaria di Toraja Utara dibawa oleh Diaspora Toraja atau perantau kembali ke daerahnya baik untuk berlibur maupun kembali berdomisili di Toraja.

Hal ini disampaikan oleh Sub Kordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Toraja Utara, Yety Bato Payung Allo.

"Kalau melihat data yang ada, saat ini kasus Malaria yang ada di Toraja Utara adalah kasus impor dari provinsi lain, khususnya dari wilayah Papua," ucapnya saat ditemui di ruanganya dikantor Dinkes Toraja Utara, Panga, Kecamatan Tondon, Toraja Utara, Sulsel, Kamis (19/9/2024) pagi.

Diketahui bahwa penyakit Malaria bukanlah penyakit Endemik (asli atau lokal) atau Indigenous (hidup di wilayah) Toraja.

Selain tetap merawat kebersihan lingkungan, Dinkes Toraja Utara juga bekerjasama dengan pemerintah setempat hingga ke aparat lembang (desa) untuk mendata lajur lalu lintas manusia.

Yety mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan semua pihak.

"Kita mendata warga luar, khusunya perantau yang masuk dari wilayah Endemik Malaria. Kami juga terus berupaya memberikan pelayanan prima agar bagi yang sudah terjangkit Malaria tetap mendapatkan pelayanan kesehatan. Itu salah satu langkah dari Dinkes Toraja Utara," tutup Yety Bato Payung Allo.

Bukan Kejadian Luar Biasa

Yety menambahkan bahwa kasus malaria di Toraja Utara belum disebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) .

Ia mengatakan, status KLB suatu daerah disematkan jika memenuhi syarat adanya peningkatan kasus 2 kali lipat dari tahun sebelumnya.

Tahun 2023, malaria di Toraja Utara mencapai 315 kasus di mana terdapat 1 kasus kematian.

"Jadi memang grafiknya sekarang cukup tinggi, namun beberapa tahun terakhir turun walaupun tidak terlalu signifikan. Belum bisa dikatakan KLB arena di tahun 2023 - 2024 tidak ada peningkatan 2 kali lipat kasus Malaria tersebut," tuturnya.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved