Jumat, 1 Mei 2026

Mayat Dalam Toren

Mayat dalam Toren Air di Tangsel Diduga Sembunyi dari Kejaran Polisi

Bambang mengatakan saat pihaknya ingin menangkap para DPO termasuk Depoy, polisi tidak menemukan Depoy di rumahnya.

Tayang:
Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat foto Mayat dalam Toren Air di Tangsel Diduga Sembunyi dari Kejaran Polisi
tribunnews
Penemuan mayat dalam Toren di Pondok Aren, Tangerang Selatan. 

TRIBUNTORAJA.COM - Kasus penemuan mayat Devi Karmawan alias Depoy di dalam tandon atau toren air daerah Pondok Aren, Tangerang Selatan (Tangsel), mulai terkuak.

Diduga, Depoy Karmawan bersembunyi di dalam toren tersebut untuk menghindari kejaran polisi.

Kapolsek Pondok Aren, Kompol Bambang Askar, mengatakan Depoy merupakan target polisi terkait dugaan kasus narkoba.

"Kemungkinan, seperti itu (mau kabur dari polisi). Mengingat tersangka belakangan ini AA menunjukkan rumahnya di mana. Dan posisinya mau ke rumah kosong itu melewati rumahnya DK (Devi Karmawan)" kata Kompol Bambang Askar Sodiq dalam konferensi pers, Rabu (29/5/2024).

Bambang mengatakan dimungkinkan Depoy saat itu ketakutan ditambah masih ada pengaruh dari narkoba yang dikonsumsi Hingga masuk ke dalam toren air.

"Kita waktu itu belum tahu rumahnya DK, yang diketahui rumah kosong itu (yang digunakan untuk konsumsi narkoba). Kemungkinan yang bersangkutan (DK) ini masih ada reaksi sabu, halu atau ketakutan," ucapnya.

Adapun hal ini diketahui saat menangkap satu orang pengedar narkoba jenis sabu berinisial AA pada Sabtu (24/5/2024) di Jalan Puskesmas Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.

Bambang mengatakan awalnya, AA ditangkap setelah mengambil sabu atas perintah seseorang berinisial P pada Jumat (24/5/2024) di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat.

"Dia mengambil sabu sama seseoorang yang tidak dikenal oleh dia itu atas suruhan si P yang saat ini DPO, ini orang Pondok Aren juga nih si P sebesar 50 gram," ucapnya.

P, kata Bambang, meminta AA mengantarkan barang haram tersebut ke sebuah rumah kosong atau tempat Depoy di kawasan Pondok Aren, Tangerang Selatan untuk dibagi-bagi.

"Selanjutnya pelaku juga selain menjual juga pemakai juga, ditempat yang sama, di rumah kosong itu pada Sabtu kita datangi itu yang bersangkutan juga melakukan pemakaian bersama dengan si AA sama si DK (Depoy), sama si P dan sama si Dwi bareng memakai (narkoba) di situ," jelasnya.

Singkat cerita, Bambang mengatakan saat pihaknya ingin menangkap para DPO termasuk Depoy, polisi tidak menemukan Depoy di rumahnya.

"Semua kita jadikan DPO. Termasuk saat itu juga, setelah kita mengetahui di rumah si D atau DK kosong, kita balik kanan. Saat itu juga, ya sudah, kita balik kanan dulu, cooling down," tuturnya.

Namun, pada Senin (27/5/2024), pihak kepolisian mendapat laporan jika ada sesosok jenazah di dalam toren air dalam kondisi membusuk yang diketahui adalah Depoy.

Hasil autopsi saat itu, polisi tidak menemukan adanya tanda-tanda bekas luka di tubuh Depoy.

"Nah, lanjut, dilakukan screening alkohol, yang bersangkutan ada hasil negatif. Tapi, dilakukan screening narkotika dan zat adiktif lainnnya, urine dari mayat tersebut mengandung ampethamin dan positif tetrahidrokanabinol atau THC atau ganja, positif serta positif metafetamin. Sesuai dari keterangan tersangka (AA)," jelasnya.

Saat ini, lanjut Bambang, pihaknya masih memburu dua DPO lain berinisial P dan Dwi yang masih melarikan diri.

Mayat Dalam Tandon

Misteri penemuan mayat di dalam tandon atau toren air di Tangerang Selatan, Senin (27/5/2024) sore, masih misteri.

Hingga kini, polisi belum bisa mengungkap pelaku pembunuhan yang memasukkan mayat korbannya ke dalam toren air milik Sutrisno (46), warga Gang Samid Sian, RT 03 RW 01, Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Penemuan mayat di dalam toren air itu terungkap setelah Sutrisno merasakan air di rumahnya keruh dan berbau bangkai sehari terakhir.

Sehari sebelum mayat ditemukan di dalam toren, istri Sutrisno mengeluhkan air di rumahnya menjadi tampak keruh dan bau bangkai.

Namun, Sutrisno menganggap air di rumahnya keruh karena sudah memasuki musim panas sehingga tak buru-buru memeriksa kondisi toren air.

“Terus didiamkan sampai hari Senin (27/5/2024). Kemarin kebetulan saya juga enggak kerja, izin. Ngomong lagi istri saya, 'Ayah, tolong dikuras saja (torennya)', saya bilang, 'ngapain dikuras? Kan belum lama dikuras. Enggak usah',” ujar Sutrisno saat ditemui Kompas.com di rumahnya, Selasa (28/5/2024).

Saat itu, Sutrisno menduga bau bangkai yang mencemari air di rumahnya berasal dari binatang cicak yang mati.

Sebab, sebelumnya air di rumahnya juga pernah berbau karena ada bangkai cicak di dalam toren.

Namun, lama-kelamaan, air di rumah Sutrisno mulai mengeluarkan bau yang semakin tidak sedap dan terasa sangat licin.

Mertua Sutrisno, Abu Suud (60), yang kediamannya tak jauh dari rumah sang menantu akhirnya mendatangi rumah Sutrisno setelah mendapatkan keluhan dari sang anak.

“Nah, bapak mertua kan dekat dari sini, bilang ke saya, 'Tris, katanya airnya bau?', 'iya pak, bau banget'. Saya ajak ke kamar mandi. 'Ini masih bau, Pak, bau bangkai', 'oh iya ini bau bangkai. Ya sudah, cek ke toren',” tutur Sutrisno menirukan percakapannya dengan Abu.

Setelah itu, keduanya langsung mengecek toren yang berada di belakang rumah.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, toren berwarna oranye ini berada tepat di belakang rumah Sutrisno.

Untuk ke belakang rumahnya, Sutrisno dan Abu harus melewati rumah tetangganya yang akhirnya tembus ke selokan dengan lebar satu meter.

“Saya cek dulu, saya ke atas. Nah, sebelum buka, ditutup toren itu ada lalat hijau, cuma ada tiga atau berapa. Saya buka, dua sampai empat putaran, pas dibuka, 'wah, ini mah bukan bangkai yang saya curigai (cicak)',” ujar Sutrisno.

Pasalnya, kata Sutrisno, ukurannya sebesar bantal. Dengan begitu, ia menutup kembali dan turun dari toren.

“Langsung ngomong ke bapak. 'Pak, itu bukan bangkai cicak seperti yang saya curigai, sebesar bantal'. Terus, bapak saya ke atas. Dibuka tuh sama bapak saya, 'wah, ini bangkai orang',” tutur dia.

Menurut mertua Sutrisno, mayat laki-laki itu memiliki tato di punggung.

“Kaget saya langsung. 'Ini di sini (punggung) ada tato, terus ada kelihatan kuping sama rambut', 'yang benar pak?', 'iya ini bangkai orang'. Terus saya teriak, saya suruh turun. Dia masih saja di atas. Dia bilang suruh lapor ke Pak RT. Saya lari ke Pak RT,” jelas Sutrisno.

Sebelum mengetahui ada mayat, Sutrisno mengaku bahwa dia dan keluarganya sempat memakai air dari toren untuk kebutuhan sehari-hari.

“Sempat pakai mandi, gosok gigi, wudhu juga,” ujar Sutrisno.

Setelah mengetahui di dalam toren terdapat mayat seorang pria, Sutrino mengaku tak bisa terlelap.

“Sampai enggak bisa tidur saya,” kata Sutrisno.

Sutrisno mengungkapkan, mayat pria yang ditemukan di dalam toren rumahnya ternyata tetangganya sendiri, yakni Devi Karmawan (27).

Hal tersebut dia ketahui berdasarkan hasil pengumuman berita duka cita korban melalui pengeras suara masjid setempat.

“Baru banget tadi diumumkan di masjid,” kata Sutrisno.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, rumah duka Devi berjarak kurang lebih 100 meter dari TKP.

Di rumah duka Devi pada pukul 11.48 WIB, sejumlah pelayat mulai berdatangan untuk berbelasungkawa kepada keluarga.

Pihak keluarga belum memberikan keterangan karena masih syok dan menunggu kedatangan jenazah Devi.

“Iya, ini mayat yang di dalam toren,” kata salah satu pelayat usai melayat ke rumah duka Devi.

Sutrisno memastikan bahwa toren air di rumahnya dalam posisi terkunci sebelum akhirnya ditemukan mayat Devi di dalamnya.

Sutrisno mengungkapkan, ia membuka penutup toren yang berada di belakang rumahnya ini sampai tiga kali putaran.

“(Posisi toren) terkunci pada umumnya, tertutup. Saya buka penutup torennya itu dua sampai tiga kali putaran,” ungkap Sutrisno.

Saat ditanya apakah seseorang mampu memutar penutup dari dalam toren, Sutrisno tidak bisa memastikan.

“Enggak tahu kalau itu,” ujar Sutrisno.

Setelah penemuan mayat ini, Sutrisno mendapatkan laporan dari beberapa tetangga yang mendengar suara berisik di dekat rumahnya pada Sabtu (25/5/2024) malam.

“Sebelum saya pulang badminton, yang belakang rumah saya persis, Pak Yogi, itu kemarin bilang, dia dengar ada suara orang dicekik, orang berantem dicekik,” ujar Sutrino.

“Dengarnya di belakang rumah dia, belakang rumah dia (tetangga) itu toren saya. Dia kira saya sedang berantem dengan istri saya. Makanya, dia datang ke rumah saya Sabtu malam,” kata Sutrisno melanjutkan.

Saat tetangga menghampiri rumah, ternyata Sutrino tengah berolahraga. Tetangga itu pun bertemu dan berbincang dengan anak Sutrisno.

“Kebetulan ketemu anak saya. Tanya, 'Bapak ada?', 'Bapak badminton, Pak', 'Oh enggak, tadi ada suara orang teriak, jerit', 'Saya juga dengar, saya kirain juga kutilanak', anak saya bilang gitu. Cuma, suara jeritan,” tutur Sutrisno.

Sutrino menyampaikan, tetangganya yang lain juga sempat mendengar suara mencurigakan pada Sabtu malam.

“Tetangga saya yang pagar hitam itu, dari belakang (tempat toren), dengar suara, ‘buk’, gitu. Ada dua orang,” lanjutnya.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Asal Usul Pria Tewas Dalam Toren di Pondok Aren Terungkap, Diduga Sembunyi Hindari Kejaran Polisi 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved