Minggu, 31 Mei 2026

Konflik Rusia vs Ukraina

Rusia Ancam Bakal Serang Inggris

Meskipun pasukan Ukraina terjebak di garis depan selama lebih dari 2 tahun karena kekurangan pasukan dan amunisi, mereka tetap menggunakan kekuatan...

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Rusia Ancam Bakal Serang Inggris
AP Photo via Kompas.com
Petugas pemadam kebakaran Layanan Darurat Negara Ukraina bekerja untuk memadamkan api di lokasi penembakan Rusia di kota Vyshgorod di luar ibu kota Kyiv, Ukraina, Rabu, 23 November 2022 silam. 

TRIBUNTORAJA.COM - Pada hari Senin, tanggal 6 Mei 2024, Rusia mengancam akan melakukan serangan terhadap fasilitas militer Inggris jika militer Ukraina melakukan serangan terhadap wilayah Rusia dengan senjata yang dipasok oleh Inggris.

Setelah memanggil duta besar Inggris ke Kementerian Luar Negeri, Moskow memberikan peringatan bahwa jika Ukraina menyerang wilayah Rusia dengan senjata yang diberikan oleh Inggris, maka Rusia akan merespons dengan menyerang fasilitas militer Inggris baik di Ukraina maupun di tempat lain.

Ancaman tersebut disampaikan menjelang pelantikan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk masa jabatan kelima.

 

 

Hal ini juga terjadi dalam seminggu yang penting bagi Rusia, di mana mereka akan merayakan Hari Kemenangan pada hari Kamis, yang merupakan hari libur sekuler terpenting mereka, yang menandai kekalahan mereka atas Jerman Nazi dalam Perang Dunia II.

Rusia juga mengumumkan bahwa mereka akan melakukan latihan yang mensimulasikan penggunaan senjata nuklir taktis.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan akibat komentar-komentar pejabat Barat tentang kemungkinan keterlibatan lebih lanjut dalam perang di Ukraina.

 

Baca juga: Qatar dan Mesir Usulkan Gencatan Senjata di Gaza: Hamas Setuju, Israel Bungkam dan Lanjut Pengeboman

 

Latihan tersebut direspons sebagai tanggapan terhadap "pernyataan provokatif dan ancaman dari beberapa pejabat Barat terkait Rusia," demikian disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Rusia.

Ini adalah pertama kalinya Rusia secara terbuka mengumumkan latihan yang melibatkan senjata nuklir taktis.

Meskipun demikian, pasukan nuklir strategis mereka secara rutin melakukan latihan.

 

Baca juga: Ukraina Siapkan 10 Ribu Gigi Naga untuk Halau Serangan Rusia

 

Senjata nuklir taktis mencakup bom udara, hulu ledak untuk misil jarak pendek, dan amunisi artileri yang dirancang untuk digunakan di medan perang.

Meskipun kurang kuat dibandingkan dengan senjata strategis, senjata nuklir taktis tetap merupakan ancaman serius.

Ancaman Rusia ini bertujuan untuk memberi peringatan kepada sekutu-sekutu Ukraina di Barat agar tidak lebih terlibat dalam konflik yang sudah berlangsung selama 2 tahun itu.

 

Baca juga: FSB Rusia Tuding Inggris, AS dan Ukraina Dalang Penembakan di Konser Moskwa

 

Beberapa mitra Ukraina di Barat telah menyatakan kekhawatiran bahwa konflik tersebut bisa meluas menjadi perang antara NATO dan Rusia.

Beberapa pejabat Barat, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron, telah menyatakan dukungan mereka untuk Ukraina.

Mereka bahkan mengisyaratkan kemungkinan pengiriman pasukan atau penggunaan senjata jarak jauh. Kremlin menanggapinya sebagai provokasi, meningkatkan ketegangan antara Rusia dan NATO.

 

Baca juga: Ukraina Serang Armada Laut Rusia, Hancurkan Pusat Komunikasi Laut Hitam

 

Dmitry Medvedev, wakil kepala Dewan Keamanan Rusia, mengatakan bahwa komentar-komentar tersebut berpotensi membawa dunia menuju "bencana global."

Ini bukan pertama kalinya Rusia mengancam menggunakan senjata nuklir sebagai respons terhadap dukungan militer Barat untuk Ukraina.

Dalam konteks ini, Rusia telah mengadakan latihan yang melibatkan senjata nuklir taktis, yang dianggap sebagai respons langsung terhadap komentar-komentar provokatif dari pejabat Barat.

 

Baca juga: Israel Makin Gila, Anggap Semua Laki-laki Palestina Adalah Hamas, Larang Keluar dari Rafah

 

Tindakan Rusia telah memicu keprihatinan di kalangan negara-negara Barat dan meningkatkan ketegangan antara Rusia dan NATO.

Pejabat Jerman, misalnya, telah memanggil kembali duta besarnya di Rusia untuk berkonsultasi di Berlin menyusul serangan komputer yang diduga dilakukan oleh Rusia terhadap partai Kanselir Olaf Scholz.

Tindakan provokatif Rusia ini juga dilakukan di tengah serangan drone Ukraina terhadap wilayah Rusia.

 

Baca juga: Putin: Rusia Siap Perang Nuklir

 

Meskipun pasukan Ukraina terjebak di garis depan selama lebih dari 2 tahun karena kekurangan pasukan dan amunisi, mereka tetap menggunakan kekuatan tembakan jarak jauh untuk menyerang target di dalam Rusia.

Perang di Ukraina telah menimbulkan ketegangan signifikan dalam hubungan antara Rusia dan Barat.

 

Baca juga: Ukraina Klaim Tenggelamkan Kapal Perang Rusia di Laut Hitam Menggunakan Drone

 

Rusia menyalahkan Barat atas meningkatnya ketegangan dan menganggap dirinya sebagai korban provokasi.

Dalam konteks ini, langkah-langkah Rusia, termasuk ancaman dan latihan militer, meningkatkan ketidakstabilan di kawasan tersebut dan memperkeruh situasi di Ukraina.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved