Beras Mahal
Beras Mahal, Menteri Perdagangan Salahkan El Nino
Masalah alam itu seperti dikambinghitamkan padahal di beberapa negara kawasan tetap mampu menproduksi beras dalam jumlah besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/menteri-perdagangan-zulkifli-hasan-3132023.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan kembali menyebut El Nino sebagai biang kerok mahalnya harga beras di dalam negeri.
Gara-gara El Nino, katanya, musim tanam bergeser sehingga panen raya urung terlaksana dari yang semestinya.
“Memang beras lokal belum panen raya, jadi harganya tinggi karena barangnya kurang,” ungkap Zulkifli kepada awak media, di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (14/3/2024).
El Nino menjadi kata kunci yang kerap digunakan tatkala isu beras kembali mencuat.
Masalah alam itu seperti dikambinghitamkan padahal di beberapa negara kawasan tetap mampu menproduksi beras dalam jumlah besar.
Mendag berdalih sebelum El Nino musim panen raya di Indoensia selalu jatuh pada Januari.
Akibat waktu tanam yang mundur, panen raya pun baru akan berlangsung April hingga Mei 2024.
Zulhas, sapaannya, mengaku tidak mencoba memberikan jawaban yang mengada-ada.
Namun, itulah faktanya musim panen raya belum terjadi sedangkan permintaan tinggi stok barang tidak tersedia.
Ia menyebut harga beras premium dijamin pemerintah dari Bulog sebesar Rp 14.000.
Sementara itu, beras Stabilisasi Pasokan Harga Pasar (SPHP) yang disubsidi sebesar Rp 11.000.
“Masyarakat bisa memilih kalau yang premium kemahalan, ada berasnya dari SPHP atau perum Bulog yang harganya tetap,” ujarnya.
Zulhas juga berharap agar bulan depan petani beras sudah bisa melakukan panen raya.
Dengan demikian, bisa memenuhi kebutuhan pasar dan harga beras lokal berangsur turun.
Akibat musim tanam yang bergeser itu, pasokan beras lokal pun berkurang.
“Jadi musim tanamnya bergeser, panennya bergeser. Tidak hanya terjadi pada kita. Ini seluruh dunia,” ujar Zulkifli.
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional/National Food Agency (Bapanas) memutuskan untuk menerapkan relaksasi Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium.
Ini diberlakukan sementara mulai 10 Maret sampai 23 Maret.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi menerangkan pemberlakuan sementara relaksasi HET beras premium ini diimplementasikan guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras premium di tingkat konsumen.
“Tentunya setelah kami mencermati kondisi ketersediaan, pasokan, dan harga beras premium di pasar tradisional maupun retail modern, menjadi perlu adanya suatu upaya agar terus dapat menjaga stabilitas pasokan dan harga beras premium di tingkat konsumen melalui relaksasi HET beras premium,” terang Arief.
Setelah masa relaksasi HET, beras premium kembali mengikuti HET sesuai Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan) Nomor 7 Tahun 2023.
Hal ini berarti relaksasi dilaksanakan agar masyarakat bisa lebih nyaman dalam menjalankan ibadah bulan puasa dan tidak kesulitan memperoleh akses pembelian beras di pasar.
“Nanti di minggu keempat, kita meyakini pasokan dan ketersediaan beras akan semakin bertambah dengan adanya panen padi,” ucapnya.
Anggota Komisi VI DPR RI I Nyoman Parta mengkritik Mendag Zulkifli Hasan yang kerap menyebut alam sebagai biang kerok kenaikan harga beras di Indonesia.
Menurut Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, para pejabat negara, terutama Mendag, tidak bisa terus-menerus menjadikan alam sebagai penyebab dari kenaikan harga beras.
Musababnya, ia memandang seharusnya permasalahan iklim ini sudah bisa diprediksi oleh pemerintah.
“Sesungguhnya kondisi itu sudah bisa diprediksi karena Indonesia ada di belahan tropis, memiliki iklim tropis. Hujan cukup, sinar matahari cukup. Sehingga, tidak bisa setiap ada kondisi seperti ini, seluruh pejabat terutama pak menteri, alasannya el nino. Itu berulang-ulang,” kata Parta.
Ia mengatakan, menyalahkan alam adalah perbuatan yang paling mudah. Bahkan, ia menyebut orang yang tidak tamat SD sekalipun bisa beralasan seperti itu.
“Menyalahkan alam adalah perbuatan dan sikap yang paling mudah. Paling mudah banget. Orang tidak tamat SD pun bisa itu,” ujar Parta.
“Kalau sudah rusak, salahkan alam. Kalau sudah tidak panen, salahkan banjir. Gampang banget. Lebih lanjut lagi salahkan takdir. Jadi, enggak ada gunanya kita ini gagah-gagahan,” sambungnya. (Tribun Network/Reynas Abdila)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.