Lestarikan Budaya, Komunitas Gellu Toraya Gelar Ma’Gellu Ultra Marathon dengan Menari 39 Jam
Tarian dipimpin oleh Hesti Yusniati Pala’langan yang diringi beberapa siswa tari binaannya dari berbagai jenjang umur.
Penulis: Adenin | Editor: Apriani Landa
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/02122023_MaGellu.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM, MAKALE - Komunitas Gellu Toraya menggelar Ma’Gellu Ultra Marathon dengan 39 jam menari di 30 titik cagar budaya dan destinasi wisata di Tana Toraja maupunToraja Utara.
Mereka menari selama dua hari, Rabu dan Kamis (29-30/11/2023).
Kegiatan itu merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam Festival Pa’Gellu Toraya yang dimulai pada tanggal 23 November 2023 dan berakhir pada 24 Februari 2024 nanti.
Adapun cagar budaya yang menjadi lokasi komunitas ini ini menari secara maraton ke beberpa tempat wisata mulai dari Toraja Toraja dari Buntu Sarira, kemudian ke Buntu Kandora, Pura Tambunan Litak, Pango Pango, dan Kolam Makale.
Lalu lanjut menari ke objek wisata di Toraja Utara seperti di Air Terjun Sarambu Sikole, Tongkonan Nonongan, Jembatan Alang Alang, Londa, Tongkonan Tampak Ao, Dewi Sangbua, Lolai, Pong Tora dan To Tombi, Patung Pongtiku Pangalla, To Rea, Landorundun To Kianak, Hutan Bambu To Kumila, Lo’ko Mata, Mentiro Tiku, Batu Tumonga, Kalimbuang Bori, Monumen Van De Loosdrecht, Palawa, Ne’Gandeng, Pasar Tedong Bolu, Kete Kesu, Buntu Pune, Tongkonan Sangulele kantor Gereja BPS, Salib Singki, Kandeandulang,dan berakhir di Alun Alun Rantepao.
Marathon dimulai di Tongkonan Pong Sampe yang berada dekat dari Buntu Sarira, Rabu (29/11/2023) pukul 05.00 Wita.
Tarian dipimpin oleh Hesti Yusniati Pala’langan yang diringi beberapa siswa tari binaannya dari berbagai jenjang umur.
Wanita yang akrab disapa Nona itu memimpin tarian dengan penuh khidmat.
Dengan kostum serba putih, serta tanpa alas kaki, dirinya berlenggang lenggok mengikuti alunan musik tradisional.
Tak peduli di mana berada, Nona tetap menari walau kostum yang ia kenakan mulai menguning karena noda. Tarian seolah menyatu dengan nafasnya.
Saat berganti kostum dan tidur pun, ia dalam pose menari.
Sayangnya, Guru Tari di Sekolah Tari Dodo’ Sangbua sempat tumbang ketiga akan menari di Kalimbua. Ia tumbang sejenak.
Ia pun mendapatkan penanganan medis di mobil ambulance yang telah standby di lokasi. Wanita berdarah Toraja-Ambon ini menerima bantuan oksigen.
Kegiatan ini memang menguras staminanya, namun ia tak patah arang. Setelah merasa pulih, sang Guru Tari kembali melanjutkan tariannya.
Tantangan alam pun tidak menyurutkan semangatnya. Saat di Ke'te Kesu', hujan deras turun, ia tetap menari di bawah dibawah guyuran hujan.