Hujan Petir
Tiga Warga Gowa Dilaporkan Tewas Tersambar Petir
insiden tersebut terjadi di sebuah bukit Dusun Parigi, Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulsel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/toraja/foto/bank/originals/ilustrasi-badai-petir-guntur-kilat-1162023.jpg)
TRIBUNTORAJA.COM - Tiga orang pria dikabarkan meninggal tersambar petir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), Kamis (23/11/2023) sore
Peristiwa ini terjadi di Dusun Bukit Parigi, Desa Parigi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, Sulsel.
Ketiga korban meninggal dunia ialah Daeng Nasir, Daeng Sawa, Daeng Makko.
Ketiganya adalah petani dan warga DusununBukit Parigi.
Salah seorang warga, Pardi Lantara membeberkan ada tiga korban meninggal dunia akibat tersambar petir.
Kata dia, ketiga korban ditemukan meninggal dunia di tempat setelah tersambar petir.
Mereka ketika itu sedang berada di bale-bale di tengah sawah sore tadi sekira pukul pukul 4 30 Wita.
"Ketiga korban meninggal dunia tersambar petir saat berada di bale-bale," katanya.
Warga yang mengetahui insiden ini pun langsung datang ke TKP lalu dievakuasi.
"Para korban sudah dievakuasi ke rumah duka masing-masing," ucapnya
Cara Terhindar dari Petir
Melansir Kompas.com Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Miming Saepudin, menjelaskan fenomena petir di Indonesia terbentuk dari awan cumulonimbus (Cb).
“Tipe awan Cb merupakan tipe awan hujan yang secara visual memiliki struktur yang menjulang tinggi di mana pada fase awal pertumbuhan berwarna putih dan pada fase matang akan berwarna abu kehitaman,” ujar Miming saat dihubungi Kompas.com, Senin (14/12/2020).
Tidak hanya petir, menurutnya awan comulonimbus juga dapat menimbulkan fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan puting beliung.
Awan comulonimbus terbentuk apabila kondisi atmosfer, tidak stabil dengan kondisi lingkungan udara yang lembab atau basah yang ditunjukkan dengan tingkat kelembapan udara yang tinggi.