Rabu, 22 April 2026

Waspada Ancaman Global, Sri Mulyani Minta Pemda Pantau Perekonomian China hingga Eropa

Menurutnya, ancaman global itu bukan hanya berpengaruh pada ekonomi makro secara nasional, tetapi juga untuk ekonomi daerah.

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Donny Yosua
zoom-inlihat foto Waspada Ancaman Global, Sri Mulyani Minta Pemda Pantau Perekonomian China hingga Eropa
Kompas.com
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. 

TRIBUNTORAJA.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati meminta para kepala daerah agar mewaspadai ancaman global terhadap perekonomian tanah air.

Menurutnya, ancaman global itu bukan hanya berpengaruh pada ekonomi makro secara nasional, tetapi juga untuk ekonomi daerah.

 

 

Sri Mulyani menyebut setidaknya ada tiga faktor yang bisa menjadi ancaman bagi perekonomian Indonesia.

Yang dimaksud Menkeu yaitu pelemahan ekonomi Amerika Serikat, China, dan Eropa yang ujungnya bisa membuat inflasi di Indonesia melambung tinggi.

 

Baca juga: Inflasi September 2023, BPS: Beras dan Bensin Jadi Penyumbang Terbesar

 

“Inflasi itu kalau terlalu tinggi bisa menggerus daya beli masyarakat. Bisa dibilang seperti memajaki rakyat tanpa ada Direktorat Jenderal Pajak. Karena daya belinya langsung masuk ke kantongnya sendiri (inflasi). Yang tadinya uang Rp 10 ribu bisa beli beras 1 kg, sekarang tidak bisa,” ujar Sri Mulyani dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi 2023, Jakarta, Senin (6/11/2023) dikutip Kompas.com.

Ia menjelaskan, perekonomian China, AS, dan Eropa mencakup 40 persen ekonomi dunia.

 

Baca juga: Usul Jatuhkan Bom Nuklir di Gaza, Pejabat Israel: Warga Palestina Bisa ke Irlandia Atau Gurun Pasir

 

Di AS sedang terjadi tren suku bunga tinggi karena bank sentralnya menaikkan suku bunga 5 persen dalam kurun waktu 14 bulan.

Hal ini menyebabkan capital outflow atau keluarnya aliran modal dari pasar uang sejumlah negara, termasuk Indonesia, kembali ke AS.

Kemudian disusul depresiasi nilai mata uang negara-negara yang menyebabkan imported inflation atau inflasi yang disebabkan mahalnya harga barang impor.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved